Bulan malam ini sangatlah indah. Berwarna oranye. Terang. Cantik. Bersama setitik bintang. Ya, malam ini malam nisfu sya'ban.
Malam ini, semua muslim berlomba-lomba membaca ayat-ayat suci dan berzikir.
Malam ini adalah malam ditutupnya buku amalan kita. Aku percaya, Allah pasti akan mengabulkan segala permintaanku dan semua doa yang kupanjatkan malam ini. Pun tentangmu.
Tapi, jika doa yang kupanjatkan tak terjadi, aku pun percaya Allah pasti punya kejutan lain yang jaaauh lebih baik dari apa yang kuinginkan.
Untuk dia yang jauh di sana, aku takkan mengharapkanmu kembali pun meskipun aku tahu itu hanyalah akan membuatku sakit karena terlanjur berharap.
Teruntukmu, pernahkah kita berpikir untuk apa Allah mempertemukan kita pada pagi itu di pinggir jalan kalau tidak ada maksud tertentu. Meskipun, sampai saat ini, kita belum tahu apa maksud semua ini.
Pernahkah kita berpikir lalu mengapa kita dipisahkan setelah satu tahun bersama, dengan mudahnya bertemu lalu tiba-tiba dengan mudahnya pula Dia memisahkan kita, tanpa peringatan, pun kabar?
Aku memang tak tahu apa maksudNya. Tapi aku tahu ini adalah jalan terbaik yang harus kita tempuh. Hanya ada dua alasan mengapa kita dipisahkan.
Pertama, Dia mungkin ingin kita menahan untuk belajar memahami arti cinta yang sebenarnya dan yang paling tulus. Dia mungkin ingin dilibatkan dalam hubungan kita. Dia mungkin ingin kita tetap berharap kepada Dia. Bukan kepada diri kita masing-masing.
Kedua, Dia mungkin memang tak ingin kita bersama. Namun, ia tak ingin menyakiti hati kita. Terutama, hatiku. Mungkin. Mungkin ini cara paling baik menurutnya untuk kita saling bersabar dan menerima segala ketetapannya.
Tapi, tunggu. Allah selalu mengikuti prasangka hambaNya bukan? Mari kita berprasangka dan berdoa yang terbaik, sayang.
Aku merindukanmu.
Senin, 30 April 2018
Jumat, 27 April 2018
Tidak Ada Judul
Malam ini aku sangat malu pada diriku sendiri. Kautahu kenapa? Karena kini setiap malam aku selalu tak bisa tidur sepulas sebelumnya, mataku selalu berlinang airmata saat mengingatmu. Tapi, kau tak perlu bersedih, karena aku masih menyempatkan diri untuk beristighfar dan tersenyum bahagia untuk mengikhlaskanmu.
Aku sangat malu tatkala teringat dengan kisah Hawa yang senantiasa sabar menunggu Adam saat mereka dipisahkan oleh Allah. Kau pasti tahu cerita itu.
Hawa bahkan tak pernah diberi kepastian kapan Adam akan datang apalagi menghubunginya. Di zaman saat itu, ponsel pun belum ada.
Aku juga sangat malu dengan Zulaikha yang mati-matian mengejar Yusuf. Saat ia menangis dan mati-matian mengejar cintanya Yusuf maka Allah jauhkan Yusuf darinya. Namun, saat Zulaikha mengejar cinta Allah, didekatkan Yusuf padanya.
Belum lagi, dengan kisah romantis yang paling indah dari setiap zaman, Fatimah dan Ali. Mereka bahkan tak pernah mengatakan saling mencinta. Dan yang lebih hebatnya lagi, setan pun tak mengetahui betapa cintanya Fatimah dengan Ali.
Lalu, mengapa aku harus terus menangisimu? Menangisi kepergianmu, menangis takut karena kau tak kembali. Betapa bodohnya aku. Aku yang bahkan belum solehah seperti wanita lain ini, ingin sekali berkaca pada Hawa.
Betapa lemahnya aku, bahkan masih menangis. Kenapa aku harus menangis? Ah bukan karena aku tak percaya kepadamu, tapi karena aku belum mempercayai tuhanku. Allah. Al-wadud. Aku terlena pada kerinduan yang semu.
Dan aku yakin, Allah sangat cemburu karena aku merindukanmu.
Teruntukmu, yang aku tidak tahu sedang apa, dan di mana. Tolong bantu aku meredakan kerinduan yang sungguh menyiksa ini.
Teruntukmu, yang aku tidak tahu masihkah ada namaku dalam dirimu juga untaian doa yang kaupanjatkan. Bantu aku menjadi wanita kuat meski takkan bisa seperti Hawa.
Teruntukmu yang entah kapan akan dapat membaca tulisan aneh ini. Entah pun takkan pernah membaca pengakuan dari gadis lemah ini, aku serahkan semuanya pada Allah beserta segala kerinduanku padamu yang sungguh amat sangat menyiksaku hampir setiap hari.
Teruntukmu yang kucinta, semoga Allah selalu memberika kita jalan yang terbaik dengan cara yang terbaik pula. Aamiin.
Selasa, 24 April 2018
3
Hari ketiga. Masih ada setidaknya sebelas hari lagi meskipun aku tidak tahu, kapan kamu akan membalas semua pesan-pesanku.
Kautahu? Bagiku, ini adalah rindu yang menyakitkan. Tak apa, Sayaang. Kita memang dipisahkan oleh jarak pun tanpa kabar. Tapi, kita masih bisa saling mendoakan, dalam sujud kita.
Semoga, kamu selalu ingat aku, pun aku sebaliknya.
Tiada yang paling indah selain dua orang yang saling merindukan, namun tidak saling berkomunikasi tapi saling mendoakan dalam sujudnya masing-masing.
Semangat, Mas.
Aku selalu mendukungmu.
Kautahu? Bagiku, ini adalah rindu yang menyakitkan. Tak apa, Sayaang. Kita memang dipisahkan oleh jarak pun tanpa kabar. Tapi, kita masih bisa saling mendoakan, dalam sujud kita.
Semoga, kamu selalu ingat aku, pun aku sebaliknya.
Tiada yang paling indah selain dua orang yang saling merindukan, namun tidak saling berkomunikasi tapi saling mendoakan dalam sujudnya masing-masing.
Semangat, Mas.
Aku selalu mendukungmu.
Senin, 23 April 2018
Cerita tentang hujan
Hujan pagi ini punya cerita.
Mereka datang seakan menjadi tanda perpisahan kita.
Tepat pukul 5 pagi ini, untuk pertama kali aku harus mengantarmu pergi sepagi itu untuk meninggalkanku.
Jalanan pagi itu seakan menjadi saksi betapa aku kesulitan menahan airmata yang akan tumpah ruah membasahi pipi.
Untuk terakhir kalinya melihatmu. Menemanimu tapi kali ini aku tidak ikut sampai tempat tujuan.
Hujan turun semakin lebat saat bus itu tiba, hujan mulai membasahiku seakan menolongku untuk dapat menumpahkan semua air mata yang sedari tadi tertahan.
Hujan. Turun. Kauberpamitan padaku sembari mengecup keningku dan mengucapkan salam perpisahan. Aku tak kuasa menahan tangisku yang pecah diam-diam sembari melihatmu menaiki bus itu.
Kau duduk tepat di pinggir jendela agar kau bisa melihatku dan sebaliknya.
Kondektur terasa lama mengatur entah apa. Seperti dia membiarkan kami saling bertatapan, lebih tepatnya kau yang menatapku terlalu lama sesekali memanggilku dan melambai-lambai.
Dan aku? Aku terus menerus menahan air mata yang sudah tumpah. Yang sudah membasahi pipi. Aku mencoba sekuat tenaga untuk terus tersenyum tanda aku sangat bahagia melepasmu untuk beberapa waktu yang lama.
Sayang, mengapa hari ini hujan tidak mau berhenti? Mengapa malam ini terasa sangat dingin. Dinginnya berbeda saat kauada.
Sayang, aku kangen.
Mereka datang seakan menjadi tanda perpisahan kita.
Tepat pukul 5 pagi ini, untuk pertama kali aku harus mengantarmu pergi sepagi itu untuk meninggalkanku.
Jalanan pagi itu seakan menjadi saksi betapa aku kesulitan menahan airmata yang akan tumpah ruah membasahi pipi.
Untuk terakhir kalinya melihatmu. Menemanimu tapi kali ini aku tidak ikut sampai tempat tujuan.
Hujan turun semakin lebat saat bus itu tiba, hujan mulai membasahiku seakan menolongku untuk dapat menumpahkan semua air mata yang sedari tadi tertahan.
Hujan. Turun. Kauberpamitan padaku sembari mengecup keningku dan mengucapkan salam perpisahan. Aku tak kuasa menahan tangisku yang pecah diam-diam sembari melihatmu menaiki bus itu.
Kau duduk tepat di pinggir jendela agar kau bisa melihatku dan sebaliknya.
Kondektur terasa lama mengatur entah apa. Seperti dia membiarkan kami saling bertatapan, lebih tepatnya kau yang menatapku terlalu lama sesekali memanggilku dan melambai-lambai.
Dan aku? Aku terus menerus menahan air mata yang sudah tumpah. Yang sudah membasahi pipi. Aku mencoba sekuat tenaga untuk terus tersenyum tanda aku sangat bahagia melepasmu untuk beberapa waktu yang lama.
Sayang, mengapa hari ini hujan tidak mau berhenti? Mengapa malam ini terasa sangat dingin. Dinginnya berbeda saat kauada.
Sayang, aku kangen.
Kamis, 19 April 2018
18
Teruntukmu yang selalu membuatku rindu.
Kutuliskan sebuah goresan mengenai perjalanan panjang yang sungguh tak terasa sudah setahun lamanya.
18 April tahun lalu, tepat pukul 9.15 kurang lebih. Allah menakdirkan kita bertemu. Bertemu untuk yang pertama kalinya. Kamu dengan kemeja kotak biru gelap datang dengan senyum sumringah dan menjabat tanganku tanda perkenalan.
Aku banyak bertanya dan kamu banyak terdiam dan kaku. Hari itu kita mengabadikannya dengan sebuah jepretan foto di ponselmu.
18 April lalu, kamu hadir. Semenjak saat itulah, hidupku mengalami banyak perubahan. Mengalami banyak kebahagiaan.
Teruntukmu, yang kini akan jauh dariku. Percayalah, aku berusaha untuk tidak meneteskan airmataku saat menulis ini.
Aku bukanlah wanita yang sempurna. Aku sangat banyak kekurangan. Pun dalam mencintaimu dan bersabar menunggumu.
Percayalah, ini takkan mudah bagiku. Menahan rindu dan jauh darimu. Bahkan harus rela mengikhlaskan waktumu yang harusnya menjadi milikku.
Sayang, di mana pun kau berada, entah kapan akan membaca tulisanku ini. Kini aku belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Mencintaimu berarti aku mengikhlaskan. Ikhlas menerimamu apapun adanya dan mengikhlaskanmu atas takdirNya.
Sayang, percayalah. Aku akan selalu aman. Tak perlu risau memikirkanku.
Sayang, aku hanya perlu belajar menahan rindu dan sakit karena harus ikhlas melihatmu jauh mungkin pun tanpa kabar.
Aku akan mendukung dan mendoakanmu. Tak lupa, aku akan berusaha mengikhlaskanmu.
Jika di sana kautemui wanita lain yang pasti lebih baik dariku, semoga kamu masih bisa menyempatkan membuka album line kita, kautuliskan kalimat
"Kalau nanti kamu ketemu sama yang jauh lebih baik dari aku, selalu ingat-ingat dari mana kita mulai ya."
Semoga kamu masih ingat ya sayang. Aku menyayangimu.
Kutuliskan sebuah goresan mengenai perjalanan panjang yang sungguh tak terasa sudah setahun lamanya.
18 April tahun lalu, tepat pukul 9.15 kurang lebih. Allah menakdirkan kita bertemu. Bertemu untuk yang pertama kalinya. Kamu dengan kemeja kotak biru gelap datang dengan senyum sumringah dan menjabat tanganku tanda perkenalan.
Aku banyak bertanya dan kamu banyak terdiam dan kaku. Hari itu kita mengabadikannya dengan sebuah jepretan foto di ponselmu.
18 April lalu, kamu hadir. Semenjak saat itulah, hidupku mengalami banyak perubahan. Mengalami banyak kebahagiaan.
Teruntukmu, yang kini akan jauh dariku. Percayalah, aku berusaha untuk tidak meneteskan airmataku saat menulis ini.
Aku bukanlah wanita yang sempurna. Aku sangat banyak kekurangan. Pun dalam mencintaimu dan bersabar menunggumu.
Percayalah, ini takkan mudah bagiku. Menahan rindu dan jauh darimu. Bahkan harus rela mengikhlaskan waktumu yang harusnya menjadi milikku.
Sayang, di mana pun kau berada, entah kapan akan membaca tulisanku ini. Kini aku belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Mencintaimu berarti aku mengikhlaskan. Ikhlas menerimamu apapun adanya dan mengikhlaskanmu atas takdirNya.
Sayang, percayalah. Aku akan selalu aman. Tak perlu risau memikirkanku.
Sayang, aku hanya perlu belajar menahan rindu dan sakit karena harus ikhlas melihatmu jauh mungkin pun tanpa kabar.
Aku akan mendukung dan mendoakanmu. Tak lupa, aku akan berusaha mengikhlaskanmu.
Jika di sana kautemui wanita lain yang pasti lebih baik dariku, semoga kamu masih bisa menyempatkan membuka album line kita, kautuliskan kalimat
"Kalau nanti kamu ketemu sama yang jauh lebih baik dari aku, selalu ingat-ingat dari mana kita mulai ya."
Semoga kamu masih ingat ya sayang. Aku menyayangimu.
Senin, 09 April 2018
Kamu
Selalu ada harap-harap cemas di dalam sebuah perjalanan. Bersama siapa dan ke mana kita berjalan, akan ada rasa cemas yang berkecamuk dalam diri.
Aku tahu, dalam menjalani sebuah perjalanan, akan selalu ada batu-batu krikil atau pun batu besar yang menghalangi. Dengan siapapun kauberjalan, kau akan tetap menghadapi semua itu.
Aku juga tahu, dalam menjalani sebuah perjalanan, akan ada rasa di mana aku merasa tak berharga bagimu, pun mungkin kau sebaliknya.
Akan ada selalu ada perbedaan, ya karena kita berbeda.
Namun, dalam sebuah perjalanan, pun harus dilandasi rasa saling percaya dan memahami.
Misalnya, dalam memutuskan untuk berhijab, kita pasti akan melewati rintangan-rintangan yang berat. Namun, bukankah kita percaya? Bahwa Allah menjanjikan sesuatu yang besar atas keputusan kita dalam berhijab. Bahkan kita percaya pada ayat-ayat Allah bahwa janji Allah itu pasti. Bukan?
Pun berjalan bersamamu. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini. Allah tidak mungkin secara kebetulan mempertemukan kita. Iya, aku dan kamu.
Allah punya maksud atas semua yang sudah ditakdirkan. Termasuk untuk para pembaca blogku yang bisa dihitung pakai jari.
Percayalah, terutama percaya pada Allah.
Aku percaya Allah mahabaik. Dan selalu begitu.
Perjalanan yang masih sangat sebentar ini, akuharap dapat terus berjalan meski dengan jalan yang berkelok2.
Perjalanan yang masih amat panjang ini, akuharap akan terus dan terus berjalan meski harus diwarnai dengan rasa sedih atau kesal karena harus melewati bersama seseorang yang selalu ngambek atau cengeng.
Percayalah, aku akan mencinta dan terus mencinta. Walaupun terkadang memarahimu yang tidak mengerti apapun.
Aku hanya gundah dan gelisah. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain marah padamu.
Ada rindu yang tidak bisa tersampaikan, kau hanya harus memahaminya.
Aku tahu, dalam menjalani sebuah perjalanan, akan selalu ada batu-batu krikil atau pun batu besar yang menghalangi. Dengan siapapun kauberjalan, kau akan tetap menghadapi semua itu.
Aku juga tahu, dalam menjalani sebuah perjalanan, akan ada rasa di mana aku merasa tak berharga bagimu, pun mungkin kau sebaliknya.
Akan ada selalu ada perbedaan, ya karena kita berbeda.
Namun, dalam sebuah perjalanan, pun harus dilandasi rasa saling percaya dan memahami.
Misalnya, dalam memutuskan untuk berhijab, kita pasti akan melewati rintangan-rintangan yang berat. Namun, bukankah kita percaya? Bahwa Allah menjanjikan sesuatu yang besar atas keputusan kita dalam berhijab. Bahkan kita percaya pada ayat-ayat Allah bahwa janji Allah itu pasti. Bukan?
Pun berjalan bersamamu. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini. Allah tidak mungkin secara kebetulan mempertemukan kita. Iya, aku dan kamu.
Allah punya maksud atas semua yang sudah ditakdirkan. Termasuk untuk para pembaca blogku yang bisa dihitung pakai jari.
Percayalah, terutama percaya pada Allah.
Aku percaya Allah mahabaik. Dan selalu begitu.
Perjalanan yang masih sangat sebentar ini, akuharap dapat terus berjalan meski dengan jalan yang berkelok2.
Perjalanan yang masih amat panjang ini, akuharap akan terus dan terus berjalan meski harus diwarnai dengan rasa sedih atau kesal karena harus melewati bersama seseorang yang selalu ngambek atau cengeng.
Percayalah, aku akan mencinta dan terus mencinta. Walaupun terkadang memarahimu yang tidak mengerti apapun.
Aku hanya gundah dan gelisah. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain marah padamu.
Ada rindu yang tidak bisa tersampaikan, kau hanya harus memahaminya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Untuk Bumi Palestina
Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...