Jumat, 27 April 2018

Tidak Ada Judul

Malam ini aku sangat malu pada diriku sendiri. Kautahu kenapa? Karena kini setiap malam aku selalu tak bisa tidur sepulas sebelumnya, mataku selalu berlinang airmata saat mengingatmu. Tapi, kau tak perlu bersedih, karena aku masih menyempatkan diri untuk beristighfar dan tersenyum bahagia untuk mengikhlaskanmu.

Aku sangat malu tatkala teringat dengan kisah Hawa yang senantiasa sabar menunggu Adam saat mereka dipisahkan oleh Allah. Kau pasti tahu cerita itu.
Hawa bahkan tak pernah diberi kepastian kapan Adam akan datang apalagi menghubunginya. Di zaman saat itu, ponsel pun belum ada. 

Aku juga sangat malu dengan Zulaikha yang mati-matian mengejar Yusuf. Saat ia menangis dan mati-matian mengejar cintanya Yusuf maka Allah jauhkan Yusuf darinya. Namun, saat Zulaikha mengejar cinta Allah, didekatkan Yusuf padanya.

Belum lagi, dengan kisah romantis yang paling indah dari setiap zaman, Fatimah dan Ali. Mereka bahkan tak pernah mengatakan saling mencinta. Dan yang lebih hebatnya lagi, setan pun tak mengetahui betapa cintanya Fatimah dengan Ali. 

Lalu, mengapa aku harus terus menangisimu? Menangisi kepergianmu, menangis takut karena kau tak kembali. Betapa bodohnya aku. Aku yang bahkan belum solehah seperti wanita lain ini, ingin sekali berkaca pada Hawa. 

Betapa lemahnya aku, bahkan masih menangis. Kenapa aku harus menangis? Ah bukan karena aku tak percaya kepadamu, tapi karena aku belum mempercayai tuhanku. Allah. Al-wadud. Aku terlena pada kerinduan yang semu.

Dan aku yakin, Allah sangat cemburu karena aku merindukanmu. 

Teruntukmu, yang aku tidak tahu sedang apa, dan di mana. Tolong bantu aku meredakan kerinduan yang sungguh menyiksa ini.

Teruntukmu, yang aku tidak tahu masihkah ada namaku dalam dirimu juga untaian doa yang kaupanjatkan. Bantu aku menjadi wanita kuat meski takkan bisa seperti Hawa. 

Teruntukmu yang entah kapan akan dapat membaca tulisan aneh ini. Entah pun takkan pernah membaca pengakuan dari gadis lemah ini, aku serahkan semuanya pada Allah beserta segala kerinduanku padamu yang sungguh amat sangat menyiksaku hampir setiap hari.

Teruntukmu yang kucinta, semoga Allah selalu memberika kita jalan yang terbaik dengan cara yang terbaik pula. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...