Kamis, 19 April 2018

18

Teruntukmu yang selalu membuatku rindu.

Kutuliskan sebuah goresan mengenai perjalanan panjang yang sungguh tak terasa sudah setahun lamanya.

18 April tahun lalu, tepat pukul 9.15 kurang lebih. Allah menakdirkan kita bertemu. Bertemu untuk yang pertama kalinya. Kamu dengan kemeja kotak biru gelap datang dengan senyum sumringah dan menjabat tanganku tanda perkenalan.

Aku banyak bertanya dan kamu banyak terdiam dan kaku. Hari itu kita mengabadikannya dengan sebuah jepretan foto di ponselmu.

18 April lalu, kamu hadir. Semenjak saat itulah, hidupku mengalami banyak perubahan. Mengalami banyak kebahagiaan.

Teruntukmu, yang kini akan jauh dariku. Percayalah, aku berusaha untuk tidak meneteskan airmataku saat menulis ini.

Aku bukanlah wanita yang sempurna. Aku sangat banyak kekurangan. Pun dalam mencintaimu dan bersabar menunggumu.

Percayalah, ini takkan mudah bagiku. Menahan rindu dan jauh darimu. Bahkan harus rela mengikhlaskan waktumu yang harusnya menjadi milikku.

Sayang, di mana pun kau berada, entah kapan akan membaca tulisanku ini. Kini aku belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Mencintaimu berarti aku mengikhlaskan. Ikhlas menerimamu apapun adanya dan mengikhlaskanmu atas takdirNya.

Sayang, percayalah. Aku akan selalu aman. Tak perlu risau memikirkanku.

Sayang, aku hanya perlu belajar menahan rindu dan sakit karena harus ikhlas melihatmu jauh mungkin pun tanpa kabar.

Aku akan mendukung dan mendoakanmu. Tak lupa, aku akan berusaha mengikhlaskanmu.

Jika di sana kautemui  wanita lain yang pasti lebih baik dariku, semoga kamu masih bisa menyempatkan membuka album line kita, kautuliskan kalimat
"Kalau nanti kamu ketemu sama yang jauh lebih baik dari aku, selalu ingat-ingat dari mana kita mulai ya."

Semoga kamu masih ingat ya sayang. Aku menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...