Senin, 23 April 2018

Cerita tentang hujan

Hujan pagi ini punya cerita.

Mereka datang seakan menjadi tanda perpisahan kita.

Tepat pukul 5 pagi ini, untuk pertama kali aku harus mengantarmu pergi sepagi itu untuk meninggalkanku.

Jalanan pagi itu seakan menjadi saksi betapa aku kesulitan menahan airmata yang akan tumpah ruah membasahi pipi.

Untuk terakhir kalinya melihatmu. Menemanimu tapi kali ini aku tidak ikut sampai tempat tujuan.

Hujan turun semakin lebat saat bus itu tiba, hujan mulai membasahiku seakan menolongku untuk dapat menumpahkan semua air mata yang sedari tadi tertahan.

Hujan. Turun. Kauberpamitan padaku sembari mengecup keningku dan mengucapkan salam perpisahan. Aku tak kuasa menahan tangisku yang pecah diam-diam sembari melihatmu menaiki bus itu.

Kau duduk tepat di pinggir jendela agar kau bisa melihatku dan sebaliknya.

Kondektur terasa lama mengatur entah apa. Seperti dia membiarkan kami saling bertatapan, lebih tepatnya kau yang menatapku terlalu lama sesekali memanggilku dan melambai-lambai.

Dan aku? Aku terus menerus menahan air mata yang sudah tumpah. Yang sudah membasahi pipi. Aku mencoba sekuat tenaga untuk terus tersenyum tanda aku sangat bahagia melepasmu untuk beberapa waktu yang lama.

Sayang, mengapa hari ini hujan tidak mau berhenti? Mengapa malam ini terasa sangat dingin. Dinginnya berbeda saat kauada.

Sayang, aku kangen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...