Seekor rusa malam ini sendirian. Tidak ada yang menemani. Hanya ada malam gelap tanpa bintang.
Rusa lain menghampiri merusak lamunannya.
"Mengapa melamun?" Tanya rusa lain kepada dirinya.
"Tak apa." Jawabnya singkat.
"Adakah yang ingin kauceritakan? Ceritakanlah." Rusa lain itu berusaha menghibur.
"Terlalu banyak, sampai-sampai aku tidak bisa lagi mengungkapkannya." Sambil meneteskan airmata.
Rusa lain hanya terdiam.
"Terlalu pilu. Aku bahkan tak sanggup menceritakannya. Tolong. Dengarkan saja tangisku di sini." Kata rusa itu.
Dan ia mulai menangis.
Rabu, 28 Maret 2018
Minggu, 25 Maret 2018
Tanpa Judul, Ada makna
Siang ini padahal tidak sedang turun hujan. Dan semalam sebelumnya, aku baru saja bertemu denganmya. Tapi mengapa? Belum juga seharian, aku sudah merindu.
Ada apa dengan rindu? Mengapa ia datang begitu dengan egois? Mengapa rindu datang?
Siang ini, aku merasa sangat rindu. Lebih parah dari rindu sebelumnya.
Aku sungguh merindukanmu.
Ada apa dengan rindu? Mengapa ia datang begitu dengan egois? Mengapa rindu datang?
Siang ini, aku merasa sangat rindu. Lebih parah dari rindu sebelumnya.
Aku sungguh merindukanmu.
Kamis, 15 Maret 2018
Kisah di November
Kalau sedang mengerjakan tugas akhir, mengingatkanku pada
waktu beberapa tahun lalu. 2017. Terlalu banyak kisah yang mewarnai. Kisah
tawa, senang, bahagia, tangis, sedih semua lengkap.
Kalau sedang mengerjakan Tugas akhir, setidaknya, akan ada bagian pengalaman yang harus dituangkan di dalam sebuah buku. Pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan.
November lalu terasa melelahkan. Terasa berat. Tidak ada yang bisa diceritakan tentang hal baik yang kurasakan dulu. Semuanya terasa melelahkan dan sungguh sia-sia saja bagiku.
November lalu sungguh sangat lama bagiku, mengitari seluruh jalanan ibukota, sendiri. Aku pernah melewati lorong jembatan penyebrangan yang sungguh sangat amat panjang. Aku juga pernah harus menghabiskan waktu berjam-jam ke suatu tempat yang sangat jauh, namun tidak mendapatkan apa yang kucari.
November lalu, semua terasa menyedihkan dan membuat aku selalu ingin menangis. Tapi, jika sekarang dibayangkan kembali. Semua terasa lucu dan indah. Semuanya membuatku tidak boleh menyerah atau mengeluh karena hanya sebuah buku yang dinamakan Tugas Akhir ini.
November lalu, semua hal yang terasa melelahkan dan sia-sia, ternyata memberikanku banyak pelajaran. Pelajaran tentang kesabaran dan kehidupan. Kesabaran karena bertemu dengan banyak orang sekaligus banyak sifat aneh. Kesabaran karena harus memberikan hasil kerja kepada senior padahal itu tulisanku. Kesabaran karena tidak mendapat jatah menulis berita seperti yang lainnya. Kesabaran karena harus diomel akibat kemumetan editor. Kesabaran karena harus berdiri selama 3 setengah jam di dalam transjakarta untuk dapat sampai rumah. Kesabaran karena harus terus bersabar. Kesabaran yang tidak akan pernah kudapatkan lagi setelah menyelesaikan tugas-tugas di sana. Ah, jika meningatnya aku selalu ingin menitikkan air mata.
Aku belajar tentang kehidupan yang amat sangat keras dalam setiap hari yang kujalani sepanjang bulan November hingga Januari kemarin. Pelajaran tentang hidup yang takkan bisa dibeli di mana pun. Kehidupan penuh egois, caci maki, keras, dan menusuk dari belakang. Kehidupan untuk terus berjuang meski hujan yang sangat deras dan membuat aku kuyup padahal sudah meneduh di halte busway dengan kondisi membawa nasi kotak yang hampir berkuah karena air hujan.
Kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di bawah jembatan semanggi. Semua orang tampak banyak dan aku tidak tahu akan ada karakter seperti apa lagi jika harus mengenal mereka semua.
Pelajaran tentang percaya. Percaya kepada orang yang baru dikenal tentu harus berhati-hati.
November lalu, terasa sangat cepat. Aku sangat bersyukur sempat diberikan pengalaman yang takkan kulupakan. Sampai kapan pun. Allah Maha Baik. Maha Baik.
Kalau sedang mengerjakan Tugas akhir, setidaknya, akan ada bagian pengalaman yang harus dituangkan di dalam sebuah buku. Pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan.
November lalu terasa melelahkan. Terasa berat. Tidak ada yang bisa diceritakan tentang hal baik yang kurasakan dulu. Semuanya terasa melelahkan dan sungguh sia-sia saja bagiku.
November lalu sungguh sangat lama bagiku, mengitari seluruh jalanan ibukota, sendiri. Aku pernah melewati lorong jembatan penyebrangan yang sungguh sangat amat panjang. Aku juga pernah harus menghabiskan waktu berjam-jam ke suatu tempat yang sangat jauh, namun tidak mendapatkan apa yang kucari.
November lalu, semua terasa menyedihkan dan membuat aku selalu ingin menangis. Tapi, jika sekarang dibayangkan kembali. Semua terasa lucu dan indah. Semuanya membuatku tidak boleh menyerah atau mengeluh karena hanya sebuah buku yang dinamakan Tugas Akhir ini.
November lalu, semua hal yang terasa melelahkan dan sia-sia, ternyata memberikanku banyak pelajaran. Pelajaran tentang kesabaran dan kehidupan. Kesabaran karena bertemu dengan banyak orang sekaligus banyak sifat aneh. Kesabaran karena harus memberikan hasil kerja kepada senior padahal itu tulisanku. Kesabaran karena tidak mendapat jatah menulis berita seperti yang lainnya. Kesabaran karena harus diomel akibat kemumetan editor. Kesabaran karena harus berdiri selama 3 setengah jam di dalam transjakarta untuk dapat sampai rumah. Kesabaran karena harus terus bersabar. Kesabaran yang tidak akan pernah kudapatkan lagi setelah menyelesaikan tugas-tugas di sana. Ah, jika meningatnya aku selalu ingin menitikkan air mata.
Aku belajar tentang kehidupan yang amat sangat keras dalam setiap hari yang kujalani sepanjang bulan November hingga Januari kemarin. Pelajaran tentang hidup yang takkan bisa dibeli di mana pun. Kehidupan penuh egois, caci maki, keras, dan menusuk dari belakang. Kehidupan untuk terus berjuang meski hujan yang sangat deras dan membuat aku kuyup padahal sudah meneduh di halte busway dengan kondisi membawa nasi kotak yang hampir berkuah karena air hujan.
Kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di bawah jembatan semanggi. Semua orang tampak banyak dan aku tidak tahu akan ada karakter seperti apa lagi jika harus mengenal mereka semua.
Pelajaran tentang percaya. Percaya kepada orang yang baru dikenal tentu harus berhati-hati.
November lalu, terasa sangat cepat. Aku sangat bersyukur sempat diberikan pengalaman yang takkan kulupakan. Sampai kapan pun. Allah Maha Baik. Maha Baik.
Kamis, 01 Maret 2018
Telpon dari Telin
Malam ini sudah mengantuk, tapi priaku yang sedang manja di luar sana tidak mau aku pergi tidur dan meninggalkannya yang sedang kerja.
Dia tahu aku mengantuk, mungkin dia gak tega. Cuman dia lebih gak mau ditinggal tidur. Menggemaskan.
Aku berkali- kali sudah hampir tidak sadarkan diri. Kalau bukan karena getaran ponsel yang terus bergetar di telapak tangan, aku tidak akan bangun.
Dia mengirimiku pesan singkat beberapa kali. Kemudian menelponku, dengan telpon kantornya.
Aku yang masih mengantuk menjawab telponnya.
Suaranya yang masih ceria di ujung sana, " kamu udah tidur ya?" Yaa aku yakin dia sudah bisa menebak dan pasti ada niat terselubung di dalam kalimatnya barusan, misalnya, "Tungguin aku dong," atau "temenin aku dong!"
Sayang, gemas.
Kamu membuat aku tertawa di pembicaraan hangat malam ini. Aku yang mengantuk jadi lupa dengan rasa kantukku sendiri.
Aku dan malamku mencintaimu
Dia tahu aku mengantuk, mungkin dia gak tega. Cuman dia lebih gak mau ditinggal tidur. Menggemaskan.
Aku berkali- kali sudah hampir tidak sadarkan diri. Kalau bukan karena getaran ponsel yang terus bergetar di telapak tangan, aku tidak akan bangun.
Dia mengirimiku pesan singkat beberapa kali. Kemudian menelponku, dengan telpon kantornya.
Aku yang masih mengantuk menjawab telponnya.
Suaranya yang masih ceria di ujung sana, " kamu udah tidur ya?" Yaa aku yakin dia sudah bisa menebak dan pasti ada niat terselubung di dalam kalimatnya barusan, misalnya, "Tungguin aku dong," atau "temenin aku dong!"
Sayang, gemas.
Kamu membuat aku tertawa di pembicaraan hangat malam ini. Aku yang mengantuk jadi lupa dengan rasa kantukku sendiri.
Aku dan malamku mencintaimu
November dan Yogyakarta
Samar-samar, terasa air ombak yang menyapu bersih pinggir2 pantai yang kupijaki. Semilir angin berusaha mengibas jilbab biruku. Warnanya hampir sama dengan biru langit saat di Yogyakarta.
Baru pertama kali, tapi sudah menbuat rindu. Sungguh. Ingin rasanya berpetualang di sana.
Samar-samar kuingat semua rasa sekaligus keindahan di sana. Aku ingin kembali.
Ada cerita tentang cinta di langit Yogyakarta selama lima hari. Pelajaran yang amat berharga bagiku dan bagimu. Cerita tentang memupuk rindu.
Bagi pasangan long distance pasti mereka bakal berkata,"Ah lebay lo berdua! 5 hari aja kangen."
Ini bukan soal berlebihan atau tidak. Ini soal rasa.
Di langit Yogyakarta, aku bersyukur. Pernah melihat betapa bahagianya tertawa lepas dengan teman-teman yang hampir selalu hadir di kelas dan kantin selama hampir tiga tahun belakangan.
Di langit Yogyakarta, aku juga bersyukur. Aku dapat terus menjaga hati dan janjiku padamu. Dan tentu, aku bersyukur karena aku tak goyah pada janjiku dan memilihmu ketimbang masa laluku.
Di langit Yogyakarta, aku ingin kembali. Menulis berbagai kisah yang indah. Berkali-kali menulis namamu di pinggir pantai, namun sang ombak selalu menghapusnya.
Lima belas hari. Sepuluh untukmu, lima untukku. Kamu pergi, tapi aku merasa bahwa hatimu masih di sini. Aku terharu bukan main waktu itu.
Lima untukku, tapi kaumerasa aku tidak di sana denganmu. Kamu sangat lucu. Menggemaskan.
Di langit Yogya, aku berpesan bahwa aku akan kembali bersamamu.
Baru pertama kali, tapi sudah menbuat rindu. Sungguh. Ingin rasanya berpetualang di sana.
Samar-samar kuingat semua rasa sekaligus keindahan di sana. Aku ingin kembali.
Ada cerita tentang cinta di langit Yogyakarta selama lima hari. Pelajaran yang amat berharga bagiku dan bagimu. Cerita tentang memupuk rindu.
Bagi pasangan long distance pasti mereka bakal berkata,"Ah lebay lo berdua! 5 hari aja kangen."
Ini bukan soal berlebihan atau tidak. Ini soal rasa.
Di langit Yogyakarta, aku bersyukur. Pernah melihat betapa bahagianya tertawa lepas dengan teman-teman yang hampir selalu hadir di kelas dan kantin selama hampir tiga tahun belakangan.
Di langit Yogyakarta, aku juga bersyukur. Aku dapat terus menjaga hati dan janjiku padamu. Dan tentu, aku bersyukur karena aku tak goyah pada janjiku dan memilihmu ketimbang masa laluku.
Di langit Yogyakarta, aku ingin kembali. Menulis berbagai kisah yang indah. Berkali-kali menulis namamu di pinggir pantai, namun sang ombak selalu menghapusnya.
Lima belas hari. Sepuluh untukmu, lima untukku. Kamu pergi, tapi aku merasa bahwa hatimu masih di sini. Aku terharu bukan main waktu itu.
Lima untukku, tapi kaumerasa aku tidak di sana denganmu. Kamu sangat lucu. Menggemaskan.
Di langit Yogya, aku berpesan bahwa aku akan kembali bersamamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Untuk Bumi Palestina
Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...