Minggu, 27 Mei 2018

-

Andai kamu paham meskipun aku yakin kamu berusaha susah payah untuk memahami.

Andai kamu mengerti bahwa aku berusaha untuk tidak mau merasakan rasa sesak ini. Meskipun pada akhirnya, aku terjebak dengan rasa seperti ini. Sendiri.

Aku tidak tahu mengapa aku harus merasakan rasa seperti ini, padahal barang semenit pun kamu berusaha untuk mengabariku. Aku tetap takmau melihatmu, aku hanya fokus pada rasa sesak ini.

Kamu tau apa yang buatku sesak? Karena kamu jauh dan aku tidak bisa melihatmu. Dan kamu pergi entah bertemu siapa. Dengan siapa. Dan melihat siapa.

Aku memang tidak tahu, tapi untuk membayangkannya saja sudah cukup menyakitkan bagiku.


Jumat, 04 Mei 2018

Curcol malem-malem

Malam ini, masih sama seperti beberapa malam sebelumnya. Sepi, dingin, dan sunyi. Meskipun, di dalam rumah terasa ramai, tapi aku tetap merasa sepi.

Sejak kuputuskan untuk menunggumu dan mengatakannya padamu di malam terakhir kita bertemu, sejak saat itu aku juga memutuskan menunggu dalam ketidakpastian.

Hanya Tuhan yang tahu apa yang aku rasa. Termasuk sebuah janji hati yang siap terluka.
Sayang, bukannya aku tidak percaya padamu. Aku sangat mempercayaimu. Apapun yang kaukatakan. Tapi, bukankah takdir ada di tangan-Nya. Selama belum terwujud, semua hanyalah sebuah ketidakpastian.
Seperti malam ini, kamu mungkin saja takkan kembali setelah selesai dengan urusanmu di sana.

Aku tak bisa menantang takdir, pun dirimu.

Tapi, sayang. Aku tetap menunggumu.

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...