Sabtu, 28 Oktober 2017

Si Agung Kembali Berulah

Foto: Google

Sudah lama diam, kini si Agung kembali berstatus awas. Sejak meletusnya Gunung Agung pada 1963 dan membuat heboh masyarakat Bali, kini gunung tertinggi di pulau  Bali itu kembali membuat masyarakat terpaksa mengungsi di tempat yang lebih aman.

Pada 2017, Bali termasuk gunung Agung, merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat diminati baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Seperti yang penulis baca di bbc.com bahwa di tahun ini pun, tingkat kedatangan wisatawan mancanegara sangat tinggi hingga pada Agustus, sebelum si Agung “berulah”.

Meskipun sudah 54 tahun silam,  ternyata gejala yang dirasakan masyarakat sekitar Bali pun sama seperti pada 1963. Seperti yang penulis baca di kompas.com, si Agung masih membuat gempa-gempa kecil  yang membuat masyarakat panik dan memilih untuk mengungsi.

Namun, tahukah Anda bahwa letusan si Agung pada 1963 ternyata malah menurunkan suhu bumi sebesar 0,4 derajat celcius? Dalam  tulisan yang penulis baca di tribunnews.com,  hal itu terjadi karena material vulkanik berupa aerosol sulfat dari gunung itu terbang hingga jarak 14.400 km dan melapisi atmsofer bumi.

Meskipun begitu, tetap saja si Agung melahap banyak korban dan kerugian pada saat letusan 54 tahun yang lalu itu.Tak tanggung-tanggung, letusan itu berlangsung selama satu tahun lamanya, terhitung dari 2 Februari 1963 hingga 7 Januari 1964 hal ini seperti yang penulis baca di kompas.com.

Maka dari itu, pemerintah dan Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tidak menginginkan kejadian serupa terulang kembali. Mereka pun selalu terus memantau aktivitas si Agung dan meminta agar seluruh warga yang tinggal di sekitar kaki gunung segera berpindah ke pengungsian serta memberikan pengarahan kepada masyarakat tentang bahaya yang terjadi dari erupsi dan letusan si Agung.

Meskipun warga dan pemerintah sudah bersiap siaga, si Agung pun belum juga meletus. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan si Agung?

Seperti yang pembaca baca di metrotvnews.com, ternyata si Agung adalah gunung yang memiliki karakter yang berbeda dengan gunung api lain. Pipa aliran magma yang membeku ternyata adalah penyebab si Agung belum juga menyeburkan lavanya. Meskipun belum juga meletus, masyarakat terus diimbau agar tetap berhati-hati dan siaga karena tanda-tanda si Agung akan segera meletus sudah cukup banyak. Masyarakat harus tetap waspada karena tidak ada yang bisa memprediksi kapan si Agung akan meletus.














Jumat, 27 Oktober 2017

Akankah Reklamasi Dapat Dihentikan?

Foto: Google

Reklamasi Teluk Jakarta hingga saat ini masih menjadi buah bibir seluruh mayarakat, terutama warga Jakarta. Reklamasi yang masih terus dilakukan ini belum juga dapat dihentikan. Masyarakat yang sehari-harinya mencari nafkah dengan melaut di Teluk Jakarta itu kini akan benar-benar  kehilangan tempatnya mencari nafkah. Karena, teluk yang sejatinya menjadi tempatnya mencari jerih payah  akan dikeruk dan disulap menjadi daratan  buatan.

Gagasan reklamasi teluk yang sebenarnya sudah ada sejak era kepemimpinan Soeharto pada 1995 dengan dikeluarkannya Keppres no. 52/1995 terkait Pantai Utara Jakarta, kini kembali menjadi hangat diperbincangkan oleh semua khalayak karena sudah masuk di tahap pembangunan dan tentu akan ada dampak yang ditimbulkan di sekitar  lingkungan.

Wacana ini kembali menguat, sejak disetujuinya proses reklamasi di teluk Jakarta oleh mantan Gubernur DKI Jakarta terdahulu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok sudah lama menyetujui proyek reklamasi teluk tersebut saat kepemimpinannya dan karena keputusannya itu, hampir seluruh masyarakat dan mahasiswa sempat turun untuk melakukan aksi menolak reklamasi Teluk Jakarta itu. Namun, sayangnya, aksi demo yang sempat diwarnai dengan kericuhan massa  dengan pihak polisi tak menuai apapun bahkan proyek tersebut tetap terus berjalan.

Alih-alih ingin mencegah banjir dan memperluas wilayah ibu kota, reklamasi ini justru akan sangat merugikan banyak pihak, terutama masyarakat, seperti yang penulis baca di https://www.kompasiana.com/aprillah/positif-dan-negatif-reklamasi-teluk-pantai-jakarta-bagi-masyarakat-pemerintah-dan-swasta_5739a54ef29673f8072577ce, adanya reklamasi membuat pencemaran laut akibat kegiatan  di area reklamasi. Hal itu akan menyebabkan banyaknya ikan dan biota laut yang mati.

Selain itu, reklamasi teluk itu pun justru dapat memperparah masalah banjir di ibu kota Jakarta, seperti yang penulis baca di http://www.antaranews.com/berita/657744/reklamasi-teluk-jakarta-bakal-memperparah-banjir-tahunan-jakarta. Reklamasi 17 pulau buatan itu justru akan memperparah banjir tahunan yang berasal dari 13 sungai yang mengalami sedimentasi secara cepat dan penurunan muka tanah serta intrusi air laut.

Meskipun dengan direklamasi dapat menambah daratan buatan yang dapat digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, dampak buruk yang ditimbulkan pun sungguh sangat memprihatinkan dan membuat lingkungan sekitar menjadi tercemar.

Semua yang dilakukan masyarakat tampak menjadi angin lalu saja bagi pemerintah. Pemerintah pun sepertinya tutup kuping dengan jeritan masyarakat. Meskipun kini telah adanya gubernur baru, masalah reklamasi ini pun belum juga dapat dihentikan. Dalam hal itu bertolak belakang dengan yang penulis baca dalam http://nasional.kompas.com/read/2017/10/26/19514441/anies-baswedan-reklamasi-teluk-jakarta-bukan-masalah-utama-ibu-kota, gubernur yang  berjanji akan menolak reklamasi dan tetap memegang komitmen saat kampanye itu pun kini mengatakan bahwa masalah reklamasi Jakarta bukanlah masalah utama ibu kota Jakarta. Janji hanyalah janji. Masyarakat akan tetap menunggu pembuktian nyata, akankah reklamasi ini dapat dihentikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan?


Sementara itu,  Pemerintah dan perusahaan swasta masih terus melaksanakan proyek besar-besaran ini dengan hati yang tampaknya sudah mati. Lalu, akankah reklamasi Teluk Jakarta dapat berhenti?

Kamis, 26 Oktober 2017

Pesan untuk Awan

Angin sudah berembus kencang padahal ini baru pukul 9.00 pagi. 
Ira sudah siap berangkat ke kampus. Kali ini dia tidak berangkat dengan sang ayah atau pun dengan supir ojek online seperti biasanya. 

Sudah beberapa hari, Ira menggunakan aplikasi baru di gawainya, aplikasi itu adalah layanan jemput seperti ojek online, namun hanya diperuntukkan untuk mahasiswa. 
Untuk pengguna pertama, mendapatkan "tebengan" sebanyak 10 kali secara gratis. 

Hal itu awalnya diitolak Ira karena kekhawatiran ketidaknyamanan berangkat bersama mahasiswa yang tidak ia kenali dalam satu kampus yang sebenarnya sama. Namun, karena bujukan temannya, Arin, Ira mau menggunakannya. 

"Besok jam 9 pagi di Gapura deket komplek ya!" ucap Ira pada malam harinya kepada orang asing yang ia dapati dari aplikasi tersebut. 

Ya. cukup asing bagi Ira. Karena Ira tidak pernah sedikit pun mengenal laki-laki itu meskipun mereka satu kampus. 

"Oke, Ra." jawab laki-laki itu melalui gawai.

Jam di tangan kiri Ira sudah menunjukkan pukul 9.15, Ira mulai gerah karena matahari sudah mulai meninggi. Laki-laki asing itu belum juga kelihatan. Sebenarnya, saat itu Ira ingin membatalkan saja, namun Ira enggan karena tidak enak sudah telanjur janji. 

Kini Jam sudah hampir menunjukkan pukul 9.30, Ira terpaksa mengirimi pesan singkat kepada laki-laki itu. 

Tak lama, seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan jeans cokelat datang mengendarai motor. 

Ia melepaskan senyum ke arah Ira, dan menghentikan motornya. Ia berdiri menatap Ira dan menyodorkan tangannya tanda salam kenal kepada Ira, " Gue Awan." katanya. 
Ira yang kebingungan, balik menatap dan terpaksa tersenyum sambil menjabat tangannya, "Gue Ira." 

Sepanjang perjalanan, mereka banyak berbincang. Mulai dari kuliah di Jurusan apa hingga hal-hal yang seperti hanya untuk formalitas agar tidak bosan. 

Ira tidak banyak memerhatikan Awan, karena Ira sudah terlambat masuk kelas. 

Malam harinya, Awan menghubungi Ira, 
"Lo udah pulang?" kata Awan melalui pesan singkat. 

Ira agak heran karena Awan menghubunginya lagi. Untuk sesaat, Ira berpikir bahwa Awan mungkin hanya iseng atau "bermain-main" saja. Ira berpikir untuk biasa saja dan tidak menanggapinya terlalu berlebihan. 

Namun, semenjak malam itu, hampir setiap hari Awan menghubungi Ira hanya untuk menanyakan hal sepele. Ira tidak menyangka bahwa Awan sangat perhatian. 
Awan bahkan pernah mengajaknya makan di luar dan sering mengajak Ira untuk pulang bareng. 

Awan sangat baik kepada Ira. Awalnya, ia berpikir bahwa Awan sama dengan laki-laki lainnya. Namun, Awan tidak seperti itu. Ia sungguh sangat perhatian, Ia rela menunggu Ira hingga Ira selesai matakuliah. Ia rela hujan-hujanan menjemput Ira. 

Tak lama mengenal Ira, Awan sudah tahu bahwa Ira sangat suka membaca novel. Awan pun banyak meminjamkan novel yang Ira suka padahal novel itu milik sahabat Awan. 

Meskipun Awan mengaku juga suka membaca, Ira tetap agak tidak percaya. Karena dari pembicaraan yang sering dibahas, Awan tidak banyak mengetahui. 
Namun, Awan berusaha untuk membaca novel setebal 500 halaman demi dapat membicarakan ceritanya kepada Ira. "Biar nyambung,Ra, kalo ngobrol sama lo." katanya. 

Sejak saat itulah, Ira jatuh hati kepada Awan. 
Dan semenjak itu pula mereka memutuskan untuk saling berkomitmen satu sama lain. 

Dan semenjak itu juga, Ira kembali membuka hati lagi untuk laki-laki asing yang ia jumpai pada pukul 9.30 di depan komplek. 

Dan semenjak itu perjalanan cinta mereka telah dimulai. 

Sabtu, 14 Oktober 2017

Memuliakan Orang Tua


“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Begitulah sebait ayat firman Allah yang terdapat dalam Q.S Al-Isra:23 mengenai sikap yang harus dilakukan oleh seorang anak dalam memuliakan kedua orang tuanya. Ayah dan ibu adalah kedua sosok pertama yang hadir ketika seorang anak lahir di muka bumi ini. Kasih sayang dan cintanya bak air mengalir di terik  panasnya mentari.
Saat anak lahir, ibu menyapihnya selama dua tahun, merawat hingga besar, mendidik bak madrasah yang terbaik dengan menanamkan pesan kepada seorang puterinya yang beranjak dewasa, “Kamu adalah perempuan, jadilah sebaik-baiknya perempuan yang mampu terbang setinggi langit dengan cita-citamu namun tetap rendah dalam hatinya.”  
Meskipun berbeda dengan Ayah yang mungkin lebih banyak diam, namun ia tetaplah pahlawan gagah yang mencari nafkah untuk anak-anaknya hingga tubuh tak kuat lagi menopangnya untuk berdiri.  Ya, begitulah perjuangan yang dilakukan oleh ayah dan ibu untuk anaknya.

Maka sangatlah wajar bila bahkan Tuhan sangat memuliakan keduanya bahkan sangat melarang seorang anak mengucapkan kata “Ah” bagi keduanya. Pengorbanan mereka sungguh luar biasa dan bahkan takkan bisa dibayar dengan uang bertriliyun pun. Tak peduli walaupun pekerjaan mereka hanyalah seorang pemulung sekali pun  mereka tetaplah sangat mulia.
Namun sangat disayangkan bila kini banyak ditemui kasus-kasus seorang anak tega menganiaya sang ibu atau seorang anak membunuh sang ayah hanya karena persoalan sepele. Seperti kasus seorang anak yang tega dengan sadisnya membunuh ayah kandungnya di Ciamis karena sang ayah terus menegur anaknya yang bersikap tak sopan saat sedang sarapan bersama. Hal tersebut sungguhlah sangat menyayat hati, seorang anak yang takkan bisa menggantikan semua yang telah orang tuanya berikan bahkan dengan menggendongnya berjalan kaki beribu-ribu kilometer jauhnya malah tega menghabisi nyawa ayahnya sendiri.
Sebagai seorang anak sudah seharusnya berbakti kepada ayah dan ibunya bukan malah menganiaya apalagi membunuh ayah dan ibu yang pada hakikatnya pasti mencintai anaknya, tak peduli bagaimana bentuk dan rupa sang anak.
Ayah dan ibu akan tetap menyayangi anaknya meskipun sang anak selalu membangkang perintahnya. Mereka akan tetap mendoakan yang terbaik bagi kebahagiaan anaknya meskipun anaknya  mungkin malah mengabaikannya. Mereka bahkan  melupakan kebahagiaan dirinya sendiri demi anak-anaknya. Begitulah sosok ayah dan ibu yang harus dimuliakan

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...