![]() |
| gambar: pinterest |
Sebagai seorang
muslimah yang sedang belajar berijrah, Fatma dituntut untuk terus istiqomah
dalam melakukan berbagai kegiatan positif yang membuat Fatma lebih dekat dengan
Allah, Tuhan Maha Esa yang tiada duanya.
Namun, sebagai
mahasiswa yang masih duduk di semester 3, Fatma juga dituntut untuk belajar
mandiri. Untuk mendapatkan sebuah beasiswa pun di kampus sangat sulit.
Persaingan nilai IP ditambah keaktifan dalam berorganisasi menjadi alasan Fatma
kurang beruntung dalam mendapatkan beasiswa yang sangat membantunya untuk membayar
uang kuliah tunggal (UKT) setiap semesternya. Oleh karena itulah, Fatma
memutuskan membanting setir mencari pekerjaan paruh waktu yang mungkin bisa
membantu dalam membiayai semua biaya kuliahnya.
Fatma pergi sebuah
pusat perbelanjaan yang ada di daerah Depok. Fatma ke mall bukan untuk
berbelanja, menonton, apalagi menghabiskan waktu dengan nongkrong. Fatma
mencari lowongan kerja yang ada. Apapun itu Fatma mau.
Satu jam berjalan,
beberapa toko menawarkan pekerjaan dengan gaji yang cukup lumayan, namun mereka
melarang mengenakan jilbab saat bekerja.
Dengan gaji yang
mungkin hanya cukup untuk membayar satu semester kuliah rasanya tidak sebanding
dengan hal yang harus dikorbankan. Sudah hampir 10 tahun mencoba terus
istiqomah dengan jilbab yang terus menerus dikenakan kemana pun Fatma pergi
meskipun banyak sekali rintangan yang kulewati di 10 tahun terakhir.
Dengan rasa hormat, Fatma
menolak penawaran yang mereka ajukan.
Fatma yakin Allah pasti
memberikan sesuatu yang lebih baik lagi.
Benar saja, setelah
kembali memutuskan untuk terus mencari, akhirnya Fatma dipertemukan oleh
seorang wanita paruh baya yang menawarkan pekerjaan meskipun dengan gaji yang
tidak terlalu banyak. Namun, setidaknya hal baiknya Fatma diperbolehkan
mengenakan jilbab.
Awalnya, Fatma tidak
begitu memahami pekerjaan apa yang didapat. Fatma hanya diminta menjadi seorang
Sales Promotion Girl (SPG) di sebuah toko elektronik di mall tersebut. Jadwal kerjanya pun sangat fleksibel karena
bisa beriringan dengan jadwal kuliah meskipun Fatma tidak menceritakan bahwa Fatma
adalah seorang mahasiswa aktif.
Fatma terpaksa
membohongi statusnya sebagai seorang mahasiswa, karena sangat sulit mendapat
pekerjaan dengan status sebagai mahasiswa dengan jadwal kuliah pagi. Jika pun
ada, pasti pekerjaan itu hanyalah pekerjaan event dengan upah yang sedikit.
Sebulan, dua bulan.
Akhirnya Fatma mengerti bahwa pekerjaan yang dijalani saat ini adalah pekerjaan
yang tidak Allah sukai. Ya. Fatma bekerja di sebuah toko dengan menjadi seorang
SPG finance atau bisa dikatakan di
bagian pengkreditan.
Fatma bekerja hanya
sebatas mencari konsumen yang ingin membeli elektronik dengan cara dicicil
menggunakan leasing sekaligus menghitung bunga yang akan dikenakan per bulannya
kepada konsumen tersebut.
Fatma tahu betapa
bencinya Allah dengan riba, bahkan Allah juga mengazab orang yang memakan riba,
membeli dengan riba, bahkan si “penulisnya”.
Hampir setengah tahun Fatma
sudah menjalani pekerjaan ini, hasil yang didapatkan sangat membantunya untuk
dapat membiayai kuliah bahkan membeli apa yang Fatma inginkan. Memang rasanya
akan sangat berbeda mendapatkan sesuatu dengan hasil jerih payah sendiri.
Ditambah Fatma bahkan bisa memberikan sedikit uang untuk ibunya. Hal yang
sangat mengesankan, bukan?
Hingga tak terasa
baginya, satu tahun sudah Fatma bergelut di dalam pusaran pekerjaan yang
“kotor” itu, meskipun Fatma mendapatkan teman kerja sekaligus atasan yang
sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri (karena Fatma adalah karyawan
paling muda), pekerjaan itu tetaplah pekerjaan yang harus ditinggalkan. Fatma
tidak mungkin terus memberikan uang yang tidak baik untuk dirinya dan keluarga Fatma.
Pada suatu saat,
hatinya terketuk ketika mendapati sebuah tulisan yang tidak sengaja terpampang
di layar kaca ponselnya, tulisannya adalah sebuah ayat dalam Alquran yang menunjukkan
larangan riba dalam jual-beli.
Tulisan itu sungguh
menusuk hatinya sendiri. Bagaimana mungkin Fatma seorang muslimah, berjilbab,
bahkan tahu bahwa riba adalah sesuatu yang Allah benci, malah hidup dalam
pekerjaan itu. Tanpa disadari Fatma menangis, Fatma menjadi ketakutan.
Pada saat itu lah Fatma
mulai mencoba menghubungi kakak liqo sekaligus mentornya untuk berbagi
pengalaman sekaligus meminta saran kepada mereka.
Awalnya mereka cukup
takjub karena Fatma, yang usianya lebih muda dari mereka semua, malah sudah berani untuk mencari uang sendiri. Namun,
dengan cara yang sangat lembut tanpa menyakiti perasaan, mereka mencoba
menjelaskan sekaligus memberikan jalan keluar yang tepat untuknya.
“Selagi bekerja di
sana, jika memang sangat butuh, ya lanjut saja. Tapi, sembari bekerja kamu
harus berusaha untuk mencari pekerjaan baru yang lebih Allah ridhoi, Fat. ” kata
salah satu dari mereka.
Fatma bahkan ditawarkan
untuk menjadi guru private di sebuah tempat les, namun karena jarak tempuh yang
jauh, Fatma menolak tawaran tersebut dan Fatma kembali berpikir untuk segera
lepas dari pekerjaan ini.
Saat itu, Fatma
berpikir, jika memang Allah tidak menyukai pekerjaan ini, lalu mengapa Allah
memberikan Fatma pekerjaan ini?
Ujian. Ya. Pekerjaan
ini adalah ujian baginya, Allah memberikan sebuah pekerjaan dengan atasan yang
sangat baik kepada Fatma, rezeki yang didapat cukup untuk dirinya, dan sebuah
pengalaman dan pendewasaan yang tidak mungkin didapat saat Fatma kuliah. Semua
terasa indah, karena Fatma sangat dimanja saat bekerja. Kesalahan yang dilakukan
bahkan tak pernah sedikitpun menjadi sebuah hal yang besar di mata mereka. Fatma
dituntun menjadi orang yang berani dan percaya
akan diri sendiri. Tapi ternyata mungkin semua itu adalah cobaan untuk
dirinya. Riba tetaplah riba, bagaimana pun Fatma mengelak, Fatma tetap hidup
dalam pusaran itu. Cara terbaiknya adalah Fatma harus keluar dari tempat itu.
Selama satu bulan Fatma
menimbang semua yang harus dilakukan, selama sebulan pula Fatma sudah tidak
masuk bekerja. Orang kantor mulai menelepon satu per satu mencari tahu kabarnya.
Fatma memang jatuh sakit saat itu dan memang membutuhkan waktu istirahat yang
cukup. Mereka semua mencoba memahami dan terus memantau kesehatannya, bahkan
mereka ingin sekali menjenguk namun berkali-kali Fatma menolak karena Fatma
tidak mau menambah utang budi kepada mereka yang sudah sayang sekali kepada Fatma.
Fatma akan meninggalkan
mereka semua, Fatma tahu ini pasti sangat membuat mereka, karena di saat mereka
baru mengetahui kebohongan Fatma tentang status sebagai mahasiswa aktif dan
mereka dengan senang hati masih mau menerimanya bahkan mengatur ulang jadwal
kerja Fatma agar tidak bentrok dengan jadwal kuliah, Fatma justru memutuskan
untuk berhenti.
Ini memang berat, tapi
ini harus dilakukan. Allah tidak mungkin mengambil sesuatu tanpa memberikan
yang lebih baik sebagai gantinya. Janji Allah itu pasti.
Dengan mantap, Fatma
mengirim sebuah pesan singkat kepada atasannya. Fatma tidak memiliki cukup
keberanian untuk menghadap langsung atau bahkan hanya untuk menelepon. Fatma
tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
Dengan bahasa yang
santun, Fatma mengiriminya pesan yang cukup panjang. Tak lama, atasannya
membalas pesan itu, ia sungguh sangat keberatan bahkan ia sangat menyayangkan
keputusan itu.
Atasannya berkali-kali
membujuk untuk kembali bekerja bahkan ia bersedia menambah gaji jika memang itu
diperlukan.
Fatma berkali-kali
menolak dengan santun dan mengatakan bahwa Fatma sungguh sangat berutang budi
padanya.
Tak ada alasan yang
jelas saat Fatma memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu, Fatma hanya mengatakan
bahwa jadwal kuliah sudah sangat padat dan Fatma kesulitan mengatur jadwal kerjanya.
Awalnya mereka meminta Fatma datang ke kantor dan mencoba mendiskusikan secara
baik dan mereka bahkan bersedia mengganti jadwal kerja Fatma lagi. Namun, bagi
Fatma semua yang dijalani harus segera dihentikan.
“Sesungguhnya Allah
mecintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka
membersihkan diri.” (Q.S.Albaqarah:222)
Allah pasti ganti
dengan yang lebih baik. InshaAllah.





