Sabtu, 23 September 2017

Mencari Istiqomah dalam Riba

gambar: pinterest

Sebagai seorang muslimah yang sedang belajar berijrah, Fatma dituntut untuk terus istiqomah dalam melakukan berbagai kegiatan positif yang membuat Fatma lebih dekat dengan Allah, Tuhan Maha Esa yang tiada duanya.

Namun, sebagai mahasiswa yang masih duduk di semester 3, Fatma juga dituntut untuk belajar mandiri. Untuk mendapatkan sebuah beasiswa pun di kampus sangat sulit. Persaingan nilai IP ditambah keaktifan dalam berorganisasi menjadi alasan Fatma kurang beruntung dalam mendapatkan beasiswa yang sangat membantunya untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) setiap semesternya. Oleh karena itulah, Fatma memutuskan membanting setir mencari pekerjaan paruh waktu yang mungkin bisa membantu dalam membiayai semua biaya kuliahnya.

Fatma pergi sebuah pusat perbelanjaan yang ada di daerah Depok. Fatma ke mall bukan untuk berbelanja, menonton, apalagi menghabiskan waktu dengan nongkrong. Fatma mencari lowongan kerja yang ada. Apapun itu Fatma mau.

Satu jam berjalan, beberapa toko menawarkan pekerjaan dengan gaji yang cukup lumayan, namun mereka melarang mengenakan jilbab saat bekerja.
Dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk membayar satu semester kuliah rasanya tidak sebanding dengan hal yang harus dikorbankan. Sudah hampir 10 tahun mencoba terus istiqomah dengan jilbab yang terus menerus dikenakan kemana pun Fatma pergi meskipun banyak sekali rintangan yang kulewati di 10 tahun terakhir.
Dengan rasa hormat, Fatma menolak penawaran yang mereka ajukan.
Fatma yakin Allah pasti memberikan sesuatu yang lebih baik lagi. 

Benar saja, setelah kembali memutuskan untuk terus mencari, akhirnya Fatma dipertemukan oleh seorang wanita paruh baya yang menawarkan pekerjaan meskipun dengan gaji yang tidak terlalu banyak. Namun, setidaknya hal baiknya Fatma diperbolehkan mengenakan jilbab.
Awalnya, Fatma tidak begitu memahami pekerjaan apa yang didapat. Fatma hanya diminta menjadi seorang Sales Promotion Girl (SPG) di  sebuah toko elektronik di mall tersebut.  Jadwal kerjanya pun sangat fleksibel karena bisa beriringan dengan jadwal kuliah meskipun Fatma tidak menceritakan bahwa Fatma adalah seorang mahasiswa aktif.

Fatma terpaksa membohongi statusnya sebagai seorang mahasiswa, karena sangat sulit mendapat pekerjaan dengan status sebagai mahasiswa dengan jadwal kuliah pagi. Jika pun ada, pasti pekerjaan itu hanyalah pekerjaan event dengan upah yang sedikit.
Sebulan, dua bulan. Akhirnya Fatma mengerti bahwa pekerjaan yang dijalani saat ini adalah pekerjaan yang tidak Allah sukai. Ya. Fatma bekerja di sebuah toko dengan menjadi seorang SPG finance atau bisa dikatakan di bagian pengkreditan.

Fatma bekerja hanya sebatas mencari konsumen yang ingin membeli elektronik dengan cara dicicil menggunakan leasing sekaligus menghitung bunga yang akan dikenakan per bulannya kepada konsumen tersebut.
Fatma tahu betapa bencinya Allah dengan riba, bahkan Allah juga mengazab orang yang memakan riba, membeli dengan riba, bahkan si “penulisnya”.

Hampir setengah tahun Fatma sudah menjalani pekerjaan ini, hasil yang didapatkan sangat membantunya untuk dapat membiayai kuliah bahkan membeli apa yang Fatma inginkan. Memang rasanya akan sangat berbeda mendapatkan sesuatu dengan hasil jerih payah sendiri. Ditambah Fatma bahkan bisa memberikan sedikit uang untuk ibunya. Hal yang sangat mengesankan, bukan?
Hingga tak terasa baginya, satu tahun sudah Fatma bergelut di dalam pusaran pekerjaan yang “kotor” itu, meskipun Fatma mendapatkan teman kerja sekaligus atasan yang sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri (karena Fatma adalah karyawan paling muda), pekerjaan itu tetaplah pekerjaan yang harus ditinggalkan. Fatma tidak mungkin terus memberikan uang yang tidak baik untuk dirinya dan keluarga Fatma.

Pada suatu saat, hatinya terketuk ketika mendapati sebuah tulisan yang tidak sengaja terpampang di layar kaca ponselnya, tulisannya adalah sebuah ayat dalam Alquran yang menunjukkan larangan riba dalam jual-beli.

Tulisan itu sungguh menusuk hatinya sendiri. Bagaimana mungkin Fatma seorang muslimah, berjilbab, bahkan tahu bahwa riba adalah sesuatu yang Allah benci, malah hidup dalam pekerjaan itu. Tanpa disadari Fatma menangis, Fatma menjadi ketakutan.

Pada saat itu lah Fatma mulai mencoba menghubungi kakak liqo sekaligus mentornya untuk berbagi pengalaman sekaligus meminta saran kepada mereka.

Awalnya mereka cukup takjub karena Fatma, yang usianya lebih muda dari mereka semua, malah sudah  berani untuk mencari uang sendiri. Namun, dengan cara yang sangat lembut tanpa menyakiti perasaan, mereka mencoba menjelaskan sekaligus memberikan jalan keluar yang tepat untuknya.
“Selagi bekerja di sana, jika memang sangat butuh, ya lanjut saja. Tapi, sembari bekerja kamu harus berusaha untuk mencari pekerjaan baru yang lebih Allah ridhoi, Fat. ” kata salah satu dari mereka.
Fatma bahkan ditawarkan untuk menjadi guru private di sebuah tempat les, namun karena jarak tempuh yang jauh, Fatma menolak tawaran tersebut dan Fatma kembali berpikir untuk segera lepas dari pekerjaan ini.
Saat itu, Fatma berpikir, jika memang Allah tidak menyukai pekerjaan ini, lalu mengapa Allah memberikan Fatma pekerjaan ini?

Ujian. Ya. Pekerjaan ini adalah ujian baginya, Allah memberikan sebuah pekerjaan dengan atasan yang sangat baik kepada Fatma, rezeki yang didapat cukup untuk dirinya, dan sebuah pengalaman dan pendewasaan yang tidak mungkin didapat saat Fatma kuliah. Semua terasa indah, karena Fatma sangat dimanja saat bekerja. Kesalahan yang dilakukan bahkan tak pernah sedikitpun menjadi sebuah hal yang besar di mata mereka. Fatma dituntun menjadi orang yang berani dan percaya  akan diri sendiri. Tapi ternyata mungkin semua itu adalah cobaan untuk dirinya. Riba tetaplah riba, bagaimana pun Fatma mengelak, Fatma tetap hidup dalam pusaran itu. Cara terbaiknya adalah Fatma harus keluar dari tempat itu.

Selama satu bulan Fatma menimbang semua yang harus dilakukan, selama sebulan pula Fatma sudah tidak masuk bekerja. Orang kantor mulai menelepon satu per satu mencari tahu kabarnya. Fatma memang jatuh sakit saat itu dan memang membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Mereka semua mencoba memahami dan terus memantau kesehatannya, bahkan mereka ingin sekali menjenguk namun berkali-kali Fatma menolak karena Fatma tidak mau menambah utang budi kepada mereka yang sudah sayang sekali kepada Fatma.

Fatma akan meninggalkan mereka semua, Fatma tahu ini pasti sangat membuat mereka, karena di saat mereka baru mengetahui kebohongan Fatma tentang status sebagai mahasiswa aktif dan mereka dengan senang hati masih mau menerimanya bahkan mengatur ulang jadwal kerja Fatma agar tidak bentrok dengan jadwal kuliah, Fatma justru memutuskan untuk berhenti.
Ini memang berat, tapi ini harus dilakukan. Allah tidak mungkin mengambil sesuatu tanpa memberikan yang lebih baik sebagai gantinya. Janji Allah itu pasti.

Dengan mantap, Fatma mengirim sebuah pesan singkat kepada atasannya. Fatma tidak memiliki cukup keberanian untuk menghadap langsung atau bahkan hanya untuk menelepon. Fatma tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
Dengan bahasa yang santun, Fatma mengiriminya pesan yang cukup panjang. Tak lama, atasannya membalas pesan itu, ia sungguh sangat keberatan bahkan ia sangat menyayangkan keputusan itu.
Atasannya berkali-kali membujuk untuk kembali bekerja bahkan ia bersedia menambah gaji jika memang itu diperlukan.

Fatma berkali-kali menolak dengan santun dan mengatakan bahwa Fatma sungguh sangat berutang budi padanya.
Tak ada alasan yang jelas saat Fatma memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu, Fatma hanya mengatakan bahwa jadwal kuliah sudah sangat padat dan Fatma kesulitan mengatur jadwal kerjanya. Awalnya mereka meminta Fatma datang ke kantor dan mencoba mendiskusikan secara baik dan mereka bahkan bersedia mengganti jadwal kerja Fatma lagi. Namun, bagi Fatma semua yang dijalani harus segera dihentikan.

“Sesungguhnya Allah mecintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (Q.S.Albaqarah:222)
Allah pasti ganti dengan yang lebih baik. InshaAllah.





Menelusuri Keindahan Pantai Sawarna Yang Memukau

Foto : Google
Pantai Sawarna yang terdapat di Provinsi Banten memiliki keindahan yang belum diketahui oleh banyak orang. Pantai berpasir putih disertai air laut yang sangat biru membuat pengunjungnya ingin terus bermanja-manja di sana.

”Iya masih bagus banget. Pasirnya juga masih putih. Gak ada sampah sama sekali. Soalnya masih banyak orang yang gak tahu Pantai Sawarna. Jadinya masih kelihatan bersih udah gitu gak ada orang.” ujar Anisa Minatani mahasiswa aktif di Universitas Muhammad Prof.Hamka jurusan pendidikan biologi yang baru saja menghabiskan waktu liburan kuliahnya di Pantai Sawarna, Banten. 


Anisa, panggilan yang kerap dipanggil oleh teman-teman kuliahnya itu mengaku sangat menyenangkan dan tidak sia-sia berkunjung ke sana walaupun harus menempuh perjalanan yang sangat sulit dan jauh.
Ia dan kelima temannya, Novita, Siska, Rinfil, Henny dan Zaenab  berangkat dengan angkutan umum (angkot) dan turun di halte Kampung Rambutan, “Iya, dari rumah, bareng-bareng naik angkot ke jurusan Kampung Rambutan naik bus sampe Serang, Nah, sampe Serang naik mikrolet gitu karena jalanannya rusak parah, naik mikrolet sampe ke Bayah. Perjalanannya 6 jam itu,” ujar Anisa.
“Itu perjalanan 6 jam belum sampe ke Sawarna, aku sama temen- temen baru sampe ke rumah neneknya Zaenab, besoknya deh baru ke Pantai Sawarna. Yang perlu kalian tahu kalo kalian pengen ke sana itu, harus apa ya? Mmm.. Harus siap-siap mental, soalnya jalanannya tuh  naik turun, jalanannya juga curam banget deh.  Terus kalau ke sana yang ngendarain ojeknya harus orang sana, soalnya kalo bukan orang sana, soalnya kalo bukan orang sana nanti gak tahu jalanannya susah buat dilewatinnya,” sambungnya.

Walaupun tidak dapat berenang karena ombak yang sedang besar, Anisa dan teman-temannya tetap bisa menikmati keindahan Pantai Sawarna dengan bermain pasir, berfoto-foto di sekitar pantai, dan bersenda gurau di Pantai sambil menikmati matahari tenggelam.
Anisa berharap bahwa kita sebagai manusia dapat mensyukuri semua nikmat dan keindahan ciptaan-Nya dan tentunya jangan mengotori tempat wisata terutama pantai, kita harus bahu-membahu menyadarkan semua orang untuk menjaga kebersihan.

foto : pribadi

Melestarikan Budaya Bersalaman

Foto : Google
Idulfitri atau yang biasa disebut lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Idulfitri juga merupakan sebuah hari perayaan bagi umat muslim setelah selama satu bulan melaksanakan ibadah puasa. Setiap hari raya Idulfitri umat Islam pun memilliki kebiasaan untuk membuat makanan khas daerahnya masing-masing misalnya seperti ketupat dan opor ayam. Namun, selain membuat makanan khas daerah, hampir kebanyakan umat muslim pun akan melakukan tradisi bersalaman dengan keluarga, tetangga, dan sanak saudara lainnya. Biasanya, mereka akan mengunjungi rumah tetangga dan saudara untuk sekadar bersalaman untuk simbol bermaaf-maafan. 

Menurut ustadzah Fitri Apriani, Tradisi bersalaman saat lebaran bukanlah hal yang wajib dilakukan karena tradisi bersalaman tidaklah ditulis di dalam Alquran. “Bersalaman itu merupakan tradisi turunan aja, karena tidak ada hadis atau ayat dalam Alquran yang mengkhususkan salaman saat lebaran.” tegasnya. 
Meskipun tradisi bersalaman tidak tertulis di dalam Alquran, bersalaman sudah menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat adalah hal baik sehingga masyarakat dengan sangat mudah melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaan itu. “Kebanyakan orang melakukan hal tersebut karena sudah jadi kebiasaan dan tradisi dalam keluarganya yang turun-temurun. Kalau sudah lebaran pasti sungkeman, maafan, salaman, halalbihalal. Ya karena lebaran sudah menjadi moment kumpul keluarga besar jadi hal tersebut wajib dilakukan.” sambungnya. 

Menurut Fitri yang juga merupakan seorang Admin di komunitas One Day One Juz (ODOJ) menjelaskan bahwa kebiasaan bersalaman ini sudah ada sejak lama sekali, budaya bersalaman ini sudah dilakukan saat zaman kerajaan-kerajaan islam pada zaman dulu dan dilakukan pula oleh organisasi-organisasi islam yang akhirnya sampai di masyarakat. Selain itu, budaya bersalaman juga dapat mempererat ukhuwah sesama muslim atau sesama manusia. Sehingga tidak ada salahnya untuk melestarikan budaya bersalaman yang sudah ada sejak lama.

Lalu, bagaimana pendapat kalian? 

Sabtu, 09 September 2017

Food Photography ( Takoyaki (γŸγ“η„Όγ))

Foto : Pribadi (mirandanhusna.blogspot.co.id ) 

Diabetes Bukan Alasan Untuk Tidak Berpuasa

Puasa adalah suatu bentuk aktivitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari hingga matahari terbenam dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya. Puasa tidaklah harus dilakukan oleh umat muslim saja, tak jarang umat beragama lain pun melaksanakan kegiatan berpuasa dengan tujuan untuk kesehatan tubuh.
Puasa sangatlah bermanfaat bagi kesehatan tubuh terutama pada kesehatan pencernaan karena dengan berpuasa, memberi waktu bagi sistem pencernaan manusia untuk beristirahat. Puasa juga dapat meningkatkan neurotropik yang diturunkan dari otak, yang membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel-sel otak, dan pada akhirnya dapat meningkatkan fungsi otak. Selain meningkatkan fungsi otak, puasa juga dapat mengeluarkan racun dalam tubuh yang menumpuk atau mendetoksifikasi. Selama berpuasa, tubuh akan mendetoksifikasi atau mengeluarkan racun dalam sistem pencernaan dalam satu bulan. Ketika tubuh memakan cadangan lemak untuk mendapatkan energi, cadangan lemak akan membakar setiap racun yang berbahaya dalam tubuh.

Namun apakah semua orang dapat berpuasa, termasuk bagi penderita Diabetes yang notabenenya harus selalu meminum obat?

Menurut dr.Dhanny Kartika Sari yang kini sedang bertugas di Rumah Sakit Pajajaran,Bandung, pasien penderita diabetes masih diperbolehkan berpuasa namun tentunya dengan ketentuan atau syarat-syarat yang diajukan oleh dokter.
“Pasien diabetes masih boleh berpuasa. Namun dengan syarat, gulanya terkontrol, konsultasi dengan dokter, tidak mengalami gangguan pada ginjalnya, tidak konsumsi obat-obatan yang resiko hipoglikemi tinggi.” tegasnya.
Penyakit diabetes yang lebih dikenal dengan penyakit gula adalah penyakit jangka panjang atau kronis yang ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) yang jauh di atas normal. Glukosa sangat penting bagi kesehatan kita karena merupakan sumber energi utama bagi otak maupun sel-sel yang membentuk otot serta jaringan pada tubuh manusia.
Pasien penderita diabetes pun harus tetap menjaga pola makan meskipun sedang berpuasa, misalnya harus tetap menjaga makanan saat sahur maupun berbuka puasa karena jika pasien penderita diabetes tidak menjaga makanan akan dapat meningkatkan kadar gula dalam tubuh.
“Hati-hati bila tidak menjaga makanan, saat berbuka atau pun sahur, malahan dapat meningkatkan kadar gula berlebihan, maka sebaiknya pada penderita diabets tanpa komplikasi bila hendak berpuasa, saat makan sahur konsumsi makanan dengan kandungan protein tinggi namun rendah kolestrol, misalnya putih telur, ikan segar (bukan pindang), ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak. Variasi dengan beras merah dan buah-buahan.”sambungnya.

Dokter yang kini menangani penyakit diabetes sekaligus dokter umum juga menjelaskan bahwa penderita diabetes tetap bisa melakukan aktivitas berpuasa seperti manusia sehat pada umumnya, namun bila penderita diabetes merasa pusing,berdebar,keringat dingin, dan mual maka diharuskan untuk membatalkan puasanya dengan makanan atau minuman yang mudah menjadi gula, sebagai contoh ialah meminum air gula.
Oleh karena itu, penyakit diabetes bukanlah  menjadi halangan bagi para penderita diabetes untuk dapat melaksanakan ibadah puasa atau menjalani aktivitas berpuasa dengan tujuan lainnya namun harus tetap mengikuti syarat dari dokter agar kesehatan tetap terjaga. (MNH)








Rabu, 06 September 2017

Naik Harga, Tidak Takut!




Dokumen : Pribadi
Depok ­­      Harga-harga bahan pangan yang selalu melonjak tiap tahunnya dalam berbagai jenis perayaan seperti menyambut bulan suci Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha,  Natal, dan sebagainya  membuat  masyarakat berteriak  karena kurangnya pemasukan dan semakin tingginya pengeluaran. Seperti yang terjadi di hampir setiap pasar atau supermarket, termasuk Pasar Sukatani. Pasar yang terletak di Komplek Deppen, Sukatani Tapos ini juga mengalami kenaikan pada harga bahan dapur seperti bawang putih setiap menjelang perayaan seperti menjelang bulan suci Ramadhan.
Kenaikan bahan pangan seperti bawang putih yang cukup signifikan ini tak  membuat beberapa pedagang khawatir akan sepi pembeli. Misalnya saja, Nizam, pedangang bahan dapur seperti cabai, tomat, bawang putih, bawang merah, dan sebagainya ini tampak sangat percaya diri dengan kenaikan harga yang terjadi di setiap tahunnya seperti saat menjelang bulan suci Ramadhan. Nizam mengaku tidak khawatir dengan kenaikan harga bawang putih yang cukup signifikan itu.  “Ah enggak sama sekali, dari seminggu yang lalu enggak ngerasa berkurang pengunjung. Masih kayak biasanya aja. Alhamdulilah. Padahal naiknya hampir dua kali lipat, dari 40.000 sekilo jadi 70.000 sekilo. ” tegasnya. Alasannya karena menurut  Nizam, Masyarakat di sekitar Pasar Sukatani tetap akan membeli bahan dapur yang merupakan bahan utama dalam memasak makanan. “Ya karena menurut saya masyarakat bakal tetep beli bahan dapur soalnya ini kan bahan utama, ya mau mahal juga pasti dibeli. Rezeki udah ada yang atur neng jadi tenang aja. Yang penting tetep usaha.” tukasnya. Meskipun begitu, Nizam tetap berharap semoga pembeli tak akan berkurang  walaupun harga bahan dapur melonjak tinggi. (MNH)


                       

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...