Kalau sedang mengerjakan tugas akhir, mengingatkanku pada
waktu beberapa tahun lalu. 2017. Terlalu banyak kisah yang mewarnai. Kisah
tawa, senang, bahagia, tangis, sedih semua lengkap.
Kalau sedang mengerjakan Tugas akhir, setidaknya, akan ada bagian pengalaman yang harus dituangkan di dalam sebuah buku. Pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan.
November lalu terasa melelahkan. Terasa berat. Tidak ada yang bisa diceritakan tentang hal baik yang kurasakan dulu. Semuanya terasa melelahkan dan sungguh sia-sia saja bagiku.
November lalu sungguh sangat lama bagiku, mengitari seluruh jalanan ibukota, sendiri. Aku pernah melewati lorong jembatan penyebrangan yang sungguh sangat amat panjang. Aku juga pernah harus menghabiskan waktu berjam-jam ke suatu tempat yang sangat jauh, namun tidak mendapatkan apa yang kucari.
November lalu, semua terasa menyedihkan dan membuat aku selalu ingin menangis. Tapi, jika sekarang dibayangkan kembali. Semua terasa lucu dan indah. Semuanya membuatku tidak boleh menyerah atau mengeluh karena hanya sebuah buku yang dinamakan Tugas Akhir ini.
November lalu, semua hal yang terasa melelahkan dan sia-sia, ternyata memberikanku banyak pelajaran. Pelajaran tentang kesabaran dan kehidupan. Kesabaran karena bertemu dengan banyak orang sekaligus banyak sifat aneh. Kesabaran karena harus memberikan hasil kerja kepada senior padahal itu tulisanku. Kesabaran karena tidak mendapat jatah menulis berita seperti yang lainnya. Kesabaran karena harus diomel akibat kemumetan editor. Kesabaran karena harus berdiri selama 3 setengah jam di dalam transjakarta untuk dapat sampai rumah. Kesabaran karena harus terus bersabar. Kesabaran yang tidak akan pernah kudapatkan lagi setelah menyelesaikan tugas-tugas di sana. Ah, jika meningatnya aku selalu ingin menitikkan air mata.
Aku belajar tentang kehidupan yang amat sangat keras dalam setiap hari yang kujalani sepanjang bulan November hingga Januari kemarin. Pelajaran tentang hidup yang takkan bisa dibeli di mana pun. Kehidupan penuh egois, caci maki, keras, dan menusuk dari belakang. Kehidupan untuk terus berjuang meski hujan yang sangat deras dan membuat aku kuyup padahal sudah meneduh di halte busway dengan kondisi membawa nasi kotak yang hampir berkuah karena air hujan.
Kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di bawah jembatan semanggi. Semua orang tampak banyak dan aku tidak tahu akan ada karakter seperti apa lagi jika harus mengenal mereka semua.
Pelajaran tentang percaya. Percaya kepada orang yang baru dikenal tentu harus berhati-hati.
November lalu, terasa sangat cepat. Aku sangat bersyukur sempat diberikan pengalaman yang takkan kulupakan. Sampai kapan pun. Allah Maha Baik. Maha Baik.
Kalau sedang mengerjakan Tugas akhir, setidaknya, akan ada bagian pengalaman yang harus dituangkan di dalam sebuah buku. Pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan.
November lalu terasa melelahkan. Terasa berat. Tidak ada yang bisa diceritakan tentang hal baik yang kurasakan dulu. Semuanya terasa melelahkan dan sungguh sia-sia saja bagiku.
November lalu sungguh sangat lama bagiku, mengitari seluruh jalanan ibukota, sendiri. Aku pernah melewati lorong jembatan penyebrangan yang sungguh sangat amat panjang. Aku juga pernah harus menghabiskan waktu berjam-jam ke suatu tempat yang sangat jauh, namun tidak mendapatkan apa yang kucari.
November lalu, semua terasa menyedihkan dan membuat aku selalu ingin menangis. Tapi, jika sekarang dibayangkan kembali. Semua terasa lucu dan indah. Semuanya membuatku tidak boleh menyerah atau mengeluh karena hanya sebuah buku yang dinamakan Tugas Akhir ini.
November lalu, semua hal yang terasa melelahkan dan sia-sia, ternyata memberikanku banyak pelajaran. Pelajaran tentang kesabaran dan kehidupan. Kesabaran karena bertemu dengan banyak orang sekaligus banyak sifat aneh. Kesabaran karena harus memberikan hasil kerja kepada senior padahal itu tulisanku. Kesabaran karena tidak mendapat jatah menulis berita seperti yang lainnya. Kesabaran karena harus diomel akibat kemumetan editor. Kesabaran karena harus berdiri selama 3 setengah jam di dalam transjakarta untuk dapat sampai rumah. Kesabaran karena harus terus bersabar. Kesabaran yang tidak akan pernah kudapatkan lagi setelah menyelesaikan tugas-tugas di sana. Ah, jika meningatnya aku selalu ingin menitikkan air mata.
Aku belajar tentang kehidupan yang amat sangat keras dalam setiap hari yang kujalani sepanjang bulan November hingga Januari kemarin. Pelajaran tentang hidup yang takkan bisa dibeli di mana pun. Kehidupan penuh egois, caci maki, keras, dan menusuk dari belakang. Kehidupan untuk terus berjuang meski hujan yang sangat deras dan membuat aku kuyup padahal sudah meneduh di halte busway dengan kondisi membawa nasi kotak yang hampir berkuah karena air hujan.
Kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di bawah jembatan semanggi. Semua orang tampak banyak dan aku tidak tahu akan ada karakter seperti apa lagi jika harus mengenal mereka semua.
Pelajaran tentang percaya. Percaya kepada orang yang baru dikenal tentu harus berhati-hati.
November lalu, terasa sangat cepat. Aku sangat bersyukur sempat diberikan pengalaman yang takkan kulupakan. Sampai kapan pun. Allah Maha Baik. Maha Baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar