Kamis, 27 Desember 2018

Dia yang sangat mencintaiku

Tak terasa, sudah hampir 4 tahun lamanya. Sebuah kejadian yang sangat menyedihkan saat 4 tahun lalu. Belum mengenal cinta, hanya tahu rasa ambis dan selalu ingin merasa menang dari teman. Menang atas prestasi yang lebih baik. 

Ya, terlihat bagus saat masih duduk di bangku SMA. Namun, justru sangat buruk jika dipikir sekarang. 

Waktu itu di tahun 2015. Baru saja lulus SMA. Terlalu banyak mimpi, hingga tak menyerah untuk meraih bangku sarjana. Hanya itu mimpiku. Tak ada yang lain. 

Bersama dua orang sahabatku. Sahabat yang sangat kuat melewati rintangan hidup. Kami bernasib sama, bermimpi sama. Tak punya kesempatan untuk merasa bangku kuliah tanpa bantuan beasiswa atau semacamnya. 

Meskipun, jalan satu-satunya adalah setelah lulus, ya cari kerja. Namun, kami tetap ambisius untuk mendapatkan beasiswa agar jawaban setelah lulus SMA bukanlah menjadi pekerja. 

Kami ingin terus belajar dan sukses, ya alasan ke duanya mungkin gengsi. 

Ternyata keinginan kami, pun dijawab. Di 2015 lalu, pemerintah membuka kesempatan bagi masyarakatnya untuk dapat merasakan bangku perguruan tinggi. 

Waktu itu, rasanya sungguh hebat bisa masuk perguruan tinggi negeri. Ya, sampai sekarang terasa masih sama meskipun banyak anak-anak sudah tak ambis  mengenyam kuliah di PTN.

Kembali ke 2015 lalu. 
Kami bertiga memberanikan diri mendaftarkan diri, karena kami merasa memenuhi semua persyaratan. 

Beasiswa ini adalah bantuan yang diberikan pemerintah untuk membayar semua biaya kuliah hingga lulus plus uang saku tiap bulannya yg diberikan, dengan catatan, si penerima beasiswa haruslah lulus tes di perguruan tinggi negeri. 

Ya, ibaratnya bertarung dua kali. Tapi, kami tetap semangat. 

Kami mengurus segala administrasi yang sangat rumit dan banyak, hingga pada saatnya, kami sudah memberikan data tersebut kepada instansi yg mengurus. 

Tak begitu lama, pengumuman pun sudah ada. Kedua temanku lolos, namun tidak denganku. 

Tahukah rasanya waktu mendengarnya?

Yang terasa seperti dunia tak adil. 

Rasanya sungguh sakit, tak bisa dimengerti. 

Empat tahun lalu, rasanya mimpi-mimpi itu sudah terkubur. 

Namun, tahukah apa yang terjadi?

Sebulan setelahnya, ternyata rasa ambis itu masih ada, mencoba peluang lain dengan mencoba tes mandiri untuk masuk perguruan tinggi negeri. Hanya satu pilihan saat itu. 

Dan yang terjadi pada ke dua temanku, mereka gagal meraihnya, mereka tidak lulus di PTN. 

Ternyata, setelah usaha dan perjuangan yang sangat banyak, akhirnya lulus. Dan biaya kuliah yg tidak mahal.

Kau tahu? Allah sungguh Adil. Begitu cerita singkat, bukan untuk menjatuhkan ataupun pamer. Ini untuk membuktikan dari sebuah kisah anak umur 17 tahun yang bermimpi ingin menjadi sukses. Yang ingin kuliah. Tentang sebuah kisah kecil sebuah rasa kasih sayang Allah, Zat yang paling Adil. 

Dan bagaimana dengan kedua temanku sekarang?

Mereka harus bekerja setahun, lalu keduanya sudah berkuliah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...