7 tahun yang lalu, sebuah surat kecil yang diselipkan di antara lembar buku.
Tak terasa, sudah 6 tahun, kami tidak bertemu semenjak lulus SMP.
Kejadian 7 tahun lalu, sangat membekas. Aku masih ingat. Dia sahabatku namanya kusamarkan jadi Anti. Kami sangat dekat sampai-sampai kami tidak pernah menyembunyikan sesuatu tentang apapun, termasuk tentang perasaan.
Anti banyak cerita, apalagi aku. Dia memendam rasa kepada anak 7A, aku samarkan saja namanya A.
Menurutku A bukanlah anak yang tampan, biasa-biasa saja. Memang lumayan pintar tapi ya gak pintar amat. Semuanya serba biasa menurut padangku. Tapi di depan Anti aku selalu menyetujui apa pun yang Anti pikirkan tentang A.
Aku dan sahabat lainnya selalu mendukung Anti, mendukung perasaannya kepada A.
Namun, entah ada angin apa, tiba-tiba A mengirim sms kepadaku (jaman dulu belum ada WA). Aku awalnya tidak mengira ada apapun sampai akhirnya aku berpikir mungkin A menyukai Anti juga, dan mungkin ini trik supaya aku bisa mendekatkannya kepada Anti.
Aku berusaha menyambut smsnya dengan baik. Namun nampaknya, A tidak pernah bertanya apapun tentang Anti. Ia selalu ingin tahu tentang aku.
Sehari dua hari, sampai menjadi setiap hari, A selalu mengirimiku berbagai pesan singkat.
Selalu memperhatikanku dari jauh setiap sekolah.
Aku jadi bingung.
Aku takut Anti salah paham, akhirnya aku coba cerita ke Inah, sahabatku. Aku bahkan menujukkan pesan-pesannya kepada Inah.
Hari Ulang Tahunku
Namun, sepertinya A memang jatuh hati kepadaku. Tepat di hari lahirku, A mengirimiku sebuah kotak makan berisi bola-bola cokelat. Katanya buatan tangannya sendiri.
Aku menyimpannya dari Anti, aku takut Anti salah paham.
A terus menerus meneror ku dengan pesan-pesannya, sedangkan aku tidak merasakan apapun. Aku tidak merasakan perasaan lebih kepada A.
Hingga pada akhirnya, A menyatakan yang sesungguhnya lewat sepenggal lirik lagu. Dia menyukaiku. Gadis belia yang masih tidak paham apa-apa.
Aku mengirim surat kepada Inah, maksudnya agar Inah tahu dan tidak terjadi salah paham antara kami sebagai sahabat.
Surat yang kutulis sangat panjang, semua kucurahkan dalam secarik kertas.
Akhirnya Anti mengetahuinya
Ardi, laki-laki kelas 7A yang juga sahabat A. Ardi sangat dengan Inah, ya otomatis Ardi juga dekat dengan ku dan teman-teman lainnya. Tak terkecuali Anti.
Aku tidak tahu, sudah dua hari Anti menghindariku. Tidak berbicara apapun kepadaku. Bahkan hanya diam ketika kusapa.
Anti bahkan tidak mau istirahat bareng aku. Aku awalnya tidak menaruh curiga apa-apa dan tidak menyadarinya.
Sampai pada akhirnya, Anti mengajakku berbicara di balkon lantai 2.
"Aku minta maaf, karena sudah marah sama kamu," katanya. Aku masih kebingungan dan dia melanjutkan kata-katanya.
"Aku sedih, akhirnya aku tau laki-laki yang aku suka selama ini suka sama kamu, Aku juga tau dia udah kasih kue kan ke kamu, Aku marah. Tapi aku gak akan benci kamu,"
Itu kata Anti padaku. Aku hanya terdiam.
Anti tak mengizinkanku berbicara apa-apa.
"Aku tau ini dari Ardi. Ardi sudah cerita semuanya,"
Aku hanya bisa mengomeli Ardi dalam hati. Berharap situasi ini segera usai.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain sedih dengan keputusan Anti yang tidak ingin berteman dengan ku untuk beberapa waktu.
Aku hanya merasa kebingungan, kenapa dia tega merusak semuanya hanya karena perasaannya kepada laki-laki?
Sepucuk Surat Untukku
Anti menyelipkan sepucuk surat setelah dua hari mendiamkanku.
Surat itu berisi permintaan maafnya kepadaku.
Dia tidak berani mengungkapkannya langsung saat itu.
Kini aku merasa sedikit tenang, dan Anti sudah ikhlas.
Hingga kini, surat itu masih aku simpan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar