![]() |
| Foto: Google |
Reklamasi Teluk Jakarta hingga saat ini masih menjadi buah bibir seluruh mayarakat, terutama warga Jakarta. Reklamasi yang masih terus dilakukan ini belum juga dapat dihentikan. Masyarakat yang sehari-harinya mencari nafkah dengan melaut di Teluk Jakarta itu kini akan benar-benar kehilangan tempatnya mencari nafkah. Karena, teluk yang sejatinya menjadi tempatnya mencari jerih payah akan dikeruk dan disulap menjadi daratan buatan.
Gagasan reklamasi teluk
yang sebenarnya sudah ada sejak era kepemimpinan Soeharto pada 1995 dengan
dikeluarkannya Keppres no. 52/1995 terkait Pantai Utara Jakarta, kini kembali
menjadi hangat diperbincangkan oleh semua khalayak karena sudah masuk di tahap
pembangunan dan tentu akan ada dampak yang ditimbulkan di sekitar lingkungan.
Wacana ini kembali
menguat, sejak disetujuinya proses reklamasi di teluk Jakarta oleh mantan
Gubernur DKI Jakarta terdahulu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok sudah lama
menyetujui proyek reklamasi teluk tersebut saat kepemimpinannya dan karena
keputusannya itu, hampir seluruh masyarakat dan mahasiswa sempat turun untuk
melakukan aksi menolak reklamasi Teluk Jakarta itu. Namun, sayangnya, aksi demo
yang sempat diwarnai dengan kericuhan massa
dengan pihak polisi tak menuai apapun bahkan proyek tersebut tetap terus
berjalan.
Alih-alih ingin
mencegah banjir dan memperluas wilayah ibu kota, reklamasi ini justru akan
sangat merugikan banyak pihak, terutama masyarakat, seperti yang penulis baca
di https://www.kompasiana.com/aprillah/positif-dan-negatif-reklamasi-teluk-pantai-jakarta-bagi-masyarakat-pemerintah-dan-swasta_5739a54ef29673f8072577ce, adanya reklamasi membuat pencemaran laut akibat
kegiatan di area reklamasi. Hal itu
akan menyebabkan banyaknya ikan dan biota laut yang mati.
Selain itu, reklamasi
teluk itu pun justru dapat memperparah masalah banjir di ibu kota Jakarta,
seperti yang penulis baca di http://www.antaranews.com/berita/657744/reklamasi-teluk-jakarta-bakal-memperparah-banjir-tahunan-jakarta. Reklamasi 17
pulau buatan itu justru akan memperparah banjir tahunan yang berasal dari 13
sungai yang mengalami sedimentasi secara cepat dan penurunan muka tanah serta
intrusi air laut.
Meskipun dengan
direklamasi dapat menambah daratan buatan yang dapat digunakan untuk berbagai
macam kebutuhan, dampak buruk yang ditimbulkan pun sungguh sangat
memprihatinkan dan membuat lingkungan sekitar menjadi tercemar.
Semua yang dilakukan
masyarakat tampak menjadi angin lalu saja bagi pemerintah. Pemerintah pun
sepertinya tutup kuping dengan jeritan masyarakat. Meskipun kini telah adanya
gubernur baru, masalah reklamasi ini pun belum juga dapat dihentikan. Dalam hal
itu bertolak belakang dengan yang penulis baca dalam http://nasional.kompas.com/read/2017/10/26/19514441/anies-baswedan-reklamasi-teluk-jakarta-bukan-masalah-utama-ibu-kota, gubernur
yang berjanji akan menolak reklamasi dan
tetap memegang komitmen saat kampanye itu pun kini mengatakan bahwa masalah
reklamasi Jakarta bukanlah masalah utama ibu kota Jakarta. Janji hanyalah
janji. Masyarakat akan tetap menunggu pembuktian nyata, akankah reklamasi ini
dapat dihentikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan?
Sementara itu, Pemerintah dan perusahaan swasta masih terus
melaksanakan proyek besar-besaran ini dengan hati yang tampaknya sudah mati. Lalu, akankah reklamasi Teluk Jakarta dapat berhenti?

semoga saja reklamasi tidak akan terjadi
BalasHapusAamiin, Mas.Tapi sayangnya reklamasi sudah masuk di tahap pembangunan:(
HapusReklamasi sangat tidak dibenarkan. Dampak negatifnya terlalu banyak
BalasHapusBetul sekali!
HapusSemoga pemerintah bisa memikirkan dampak negatif kebijakan yg akan dilakukan
BalasHapusMungkin hanya dipikirkan saja, Mas. Namun, akan terus dilanjutkan dengan dalih mengusung tujuan mencegah kebanjiran dan memperluas wilayah ibu kota.
HapusSegala macam protes warga dirasa percuma, pemerintah tetap saja melanjutkan pembangunan. Prihatin;(
BalasHapusBetul sekali itu,Mbak.Sangat ironis.
HapusJadi apa memang reklamasi sudah mulai digerakan?
BalasHapusSudah memasuki tahap pembangunan, Kak.:(
HapusLuar biasaahhh
BalasHapusIya,Mbak. Luar biasa dampak yang akan ditimbulkan.
HapusSangat disayangkan kalo reklamasi terjadi :(
BalasHapusIya,Kak. Sayang banget:(
HapusKok bisa ya ada reklamasi
BalasHapusBisa,Kak. Untuk kepentingan suatu kelompok, apa yang tidak bisa dilakukan(?)
HapusKetika hati nurani sudah mati, demokrasi pun ikut mati :( Sedih ya jadinya :(
BalasHapusIya, Kak. Tidak ada hati lagi demi melakukan kepentingan pribadi meskipun harus menyakiti banyak pihak lain.
HapusInformatif sekali
BalasHapusTerima kasih, Bang!
Hapuskoreksi untuk pemerintah terus lanjutkan kritik mu terhdap pemerintah mir
BalasHapusTerima kasih atas dukungannya, Mbak Rifani❤
HapusHadang pembangunan proyek reklamasi
BalasHapusMariii!!
HapusIbaratnya reklamasi itu, seperti nasi sudah menjadi bubur:(
BalasHapusMasih mending bubur, Mbak. Enak.
HapusPasti akan susah sekali memberhentikan reklamasi teluk.
BalasHapusSangat sulit,Bang��
HapusWawww
BalasHapusKalo memang anies sandi tegas dan konsisten sama perkataan nya pasti bisa diberhentikan nih proyek... sbgai warga JKT saya kecewa sama mreka ;(
BalasHapussepertinya gabisa berhenti deh, soalnya didalemnya campur politik :(
BalasHapusKalau menurut saya, lanjutin aja. Mubazir kalau diberhentikan. Keputusan mana pun pasti ada resikonya, pro dan kontra punya resiko masing-masing. Tulisannya apik Miranda^^ Lanjutkannn^^
BalasHapussemoga gubernur yg sekarang bisa merealisasikan janji2nya yaa, aamiin. btw tulisannya menarik, mir! :D
BalasHapussemoga aja cepet ketemu yaa titik terangnya. nice post miranda!
BalasHapus