Malam ini, masih sama seperti beberapa malam sebelumnya. Sepi, dingin, dan sunyi. Meskipun, di dalam rumah terasa ramai, tapi aku tetap merasa sepi.
Sejak kuputuskan untuk menunggumu dan mengatakannya padamu di malam terakhir kita bertemu, sejak saat itu aku juga memutuskan menunggu dalam ketidakpastian.
Hanya Tuhan yang tahu apa yang aku rasa. Termasuk sebuah janji hati yang siap terluka.
Sayang, bukannya aku tidak percaya padamu. Aku sangat mempercayaimu. Apapun yang kaukatakan. Tapi, bukankah takdir ada di tangan-Nya. Selama belum terwujud, semua hanyalah sebuah ketidakpastian.
Seperti malam ini, kamu mungkin saja takkan kembali setelah selesai dengan urusanmu di sana.
Aku tak bisa menantang takdir, pun dirimu.
Tapi, sayang. Aku tetap menunggumu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar