Kamis, 26 Oktober 2017

Pesan untuk Awan

Angin sudah berembus kencang padahal ini baru pukul 9.00 pagi. 
Ira sudah siap berangkat ke kampus. Kali ini dia tidak berangkat dengan sang ayah atau pun dengan supir ojek online seperti biasanya. 

Sudah beberapa hari, Ira menggunakan aplikasi baru di gawainya, aplikasi itu adalah layanan jemput seperti ojek online, namun hanya diperuntukkan untuk mahasiswa. 
Untuk pengguna pertama, mendapatkan "tebengan" sebanyak 10 kali secara gratis. 

Hal itu awalnya diitolak Ira karena kekhawatiran ketidaknyamanan berangkat bersama mahasiswa yang tidak ia kenali dalam satu kampus yang sebenarnya sama. Namun, karena bujukan temannya, Arin, Ira mau menggunakannya. 

"Besok jam 9 pagi di Gapura deket komplek ya!" ucap Ira pada malam harinya kepada orang asing yang ia dapati dari aplikasi tersebut. 

Ya. cukup asing bagi Ira. Karena Ira tidak pernah sedikit pun mengenal laki-laki itu meskipun mereka satu kampus. 

"Oke, Ra." jawab laki-laki itu melalui gawai.

Jam di tangan kiri Ira sudah menunjukkan pukul 9.15, Ira mulai gerah karena matahari sudah mulai meninggi. Laki-laki asing itu belum juga kelihatan. Sebenarnya, saat itu Ira ingin membatalkan saja, namun Ira enggan karena tidak enak sudah telanjur janji. 

Kini Jam sudah hampir menunjukkan pukul 9.30, Ira terpaksa mengirimi pesan singkat kepada laki-laki itu. 

Tak lama, seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan jeans cokelat datang mengendarai motor. 

Ia melepaskan senyum ke arah Ira, dan menghentikan motornya. Ia berdiri menatap Ira dan menyodorkan tangannya tanda salam kenal kepada Ira, " Gue Awan." katanya. 
Ira yang kebingungan, balik menatap dan terpaksa tersenyum sambil menjabat tangannya, "Gue Ira." 

Sepanjang perjalanan, mereka banyak berbincang. Mulai dari kuliah di Jurusan apa hingga hal-hal yang seperti hanya untuk formalitas agar tidak bosan. 

Ira tidak banyak memerhatikan Awan, karena Ira sudah terlambat masuk kelas. 

Malam harinya, Awan menghubungi Ira, 
"Lo udah pulang?" kata Awan melalui pesan singkat. 

Ira agak heran karena Awan menghubunginya lagi. Untuk sesaat, Ira berpikir bahwa Awan mungkin hanya iseng atau "bermain-main" saja. Ira berpikir untuk biasa saja dan tidak menanggapinya terlalu berlebihan. 

Namun, semenjak malam itu, hampir setiap hari Awan menghubungi Ira hanya untuk menanyakan hal sepele. Ira tidak menyangka bahwa Awan sangat perhatian. 
Awan bahkan pernah mengajaknya makan di luar dan sering mengajak Ira untuk pulang bareng. 

Awan sangat baik kepada Ira. Awalnya, ia berpikir bahwa Awan sama dengan laki-laki lainnya. Namun, Awan tidak seperti itu. Ia sungguh sangat perhatian, Ia rela menunggu Ira hingga Ira selesai matakuliah. Ia rela hujan-hujanan menjemput Ira. 

Tak lama mengenal Ira, Awan sudah tahu bahwa Ira sangat suka membaca novel. Awan pun banyak meminjamkan novel yang Ira suka padahal novel itu milik sahabat Awan. 

Meskipun Awan mengaku juga suka membaca, Ira tetap agak tidak percaya. Karena dari pembicaraan yang sering dibahas, Awan tidak banyak mengetahui. 
Namun, Awan berusaha untuk membaca novel setebal 500 halaman demi dapat membicarakan ceritanya kepada Ira. "Biar nyambung,Ra, kalo ngobrol sama lo." katanya. 

Sejak saat itulah, Ira jatuh hati kepada Awan. 
Dan semenjak itu pula mereka memutuskan untuk saling berkomitmen satu sama lain. 

Dan semenjak itu juga, Ira kembali membuka hati lagi untuk laki-laki asing yang ia jumpai pada pukul 9.30 di depan komplek. 

Dan semenjak itu perjalanan cinta mereka telah dimulai. 

6 komentar:

Untuk Bumi Palestina

Waktu sore ini, termenung, bersedih namun terpupuk rasa iri atas apa yang baru dibaca. Tentang sebuah perjuangan yang sangat besar, tentang...